Sebagai seorang ibu dengan 2 anak yang tidak pernah belajar tentang ke-“ibu”-an, saya merasa saya perlu banyak belajar. Mungkin terlambat mempelajarinya setelah memiliki anak, tapi pepatah mengatakan “Better Late than Never”, right?

Jadi sebanyak mungkin saya berusaha menggali ilmu tentang parenting dari mana saja. Belajar dari orangtua, mertua, teman, saudara, buku, internet. Beberapa komunitas orangtua yang beraneka latar belakang dan tujuan saya ikuti. Sampai suatu hari adik ipar saya mengenalkan komunitas ini “Ibu Profesional”. Wow…dari namanya saja sudah terdengar keren.

Singkat cerita, saya mendaftar sebagai salah satu anggotanya. Dan akhirnya saya mengetahui bahwa komunitas ini didirikan oleh Ibu Septi Peni Wulandani (saya ingat pernah melihat beliau di acara Kick Andy menyampaikan materi tentang Jarimatika). Segera saya follow akun Ibu septi di Facebook untuk mendapatkan beragam informasi. Dan setelah membaca-baca blog Ibu Profesional, saya mengetahu bahwa komunitas ini berbagi ilmu dengan mengadakan perkuliahan offline dan online di Institut Ibu Profesional, dengan kurikulum Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Solehah.

Saya berharap dapat menyerap banyak ilmu di sini. Rabu tanggal 12 Juni 2013 kemarin adalah hari pertama saya kuliah. Keren kan? Kuliah lagi.

Kuliah perdana ini dihadiri oleh peserta yang offline (hadir di kelas Bu Septi di Salatiga) dan online seperti saya. Teman-teman online tercatat sekitar 15 orang, tersebar di Jakarta, Bogor, Malang, Payakumbuh, Padang, dll, dan satu peserta dari Qatar. Seru? Pastinya.

Hanya sekali diwarnai insiden jaringan yang terputus setelah perkenalan di awal pertemuan, selanjutnya kuliah berjalan lancar selama 90 menit. Kuliah “semester” pertama saya ini bertemakan “Bunda Sayang”. Inti dari kurikulum “Bunda Sayang” ini adalah bagaimana mendidik buah hati dengan benar, mudah dan menyenangkan. Tidak hanya membuat mereka bisa belajar, tapi juga suka belajar.

Dan materi yang disampaikan kemarin adalah tentang Komunikasi Produktif. Bagaimana caranya berkomunikasi produktif dengan anggota keluarga, terutama dengan anak. Berkomunikasi yang efektif, tidak membuang-buang energi, dan pesan tersampaikan dengan baik.

Wah, saya benar-benar merasa tercerahkan. Berikut ini ringkasan materi kuliah yang saya buat.

Sebelum menyampaikan materi, Ibu Septi memberikan semacam wejangan atau dorongan sebagai penyemangat bagi ibu-ibu di kelas ini.

Bahwa SUKSES bisa dikatakan sebagai ABNORMALITY. Sukses tidak akan dicapai dengan usaha yang setengah-setengah. Sukses bukanlah mengerjakan sesuatu dengan ukuran rata-rata. Jika ingin sukses maka kita harus menjalani aktivitas biasa dengan cara luar biasa. Termasuk dalam mengikuti perkuliahan Ibu Profesonal ini. Diharapkan para peserta tetap bersemangat hingga akhir kurikulum selesai. Dan pastinya harus ada perubahan dalam diri para peserta sesuai tujuan perkuliahan ini.

Beberapa MENTAL WARRIOR dari orang lain yang mungkin menghambat semangat para Bunda dalam mengikuti perkuliahan, menurut istilah Ibu Septi antara lain :

Mr. Ah Bad yaitu terhadap  orang-orang yang selalu berpikiran buruk terhadap kegiatan positif yang dilakukan orang lain.

Mr. Cold Water yaitu orang-orang yang bersikap dingin atau cuek terhadap setiap ajakan untuk memperbaiki diri

Mr. Lose Lose yaitu orang-orang yang gemar menyalahkan orang lain.

Selain dari luar, hal terutama yang menghambat semangat para Bunda mengikuti perkuliahan adalah dari dalam diri sendiri. Untuk itu Ibu Septi memiliki mantra handal yang bermanfaat bagi para Bunda.

Bahwa perlu diingat oleh para Bunda, FOR THINGS TO CHANGE, I MUST CHANGE FIRST. Jadi jika Bunda ingin mengubah sesuatu hal, maka Bunda harus berubah terlebih dahulu. Instrospeksi diri menjadi kunci awal sebelum menyalahkan orang lain, dan untuk mencari solusi dari sebuah masalah.

Bila Bunda selalu berpikiran negatif maka CHOOSE YOUR WORDS. Pilihan kata menggambarkan cara berpikir, membawa energi, dan mewakilli diri Bunda. Pilih kata-kata positif untuk menggantikan kata negatif. Misal, kata “Masalah” yang berkonotasi negatif, bila kita ubah menjadi “Tantangan”, tentu akan membuat kita berbeda dalam menyikapinya. Kata-kata negatif member dorongan negatif, begitupun sebaliknya, kata-kata positif member dorongan positif.

PROTECT YOURSELF, bila hambatan ada di diri orang lain, katakan pada diri sendiri Cancel, cancel, Go Away! Bila hambatan dari dalam diri sendiri, misal rasa malas, maka Switch! Ubah! Semangat!

Setelah materi pendorong semangat tersebut di atas, kemudian masuk ke materi THE MAGIC COMMUNICATION. Hal pertama yang harus dilakukan para Bunda dalam berkomunikasi adalah fokus pada solusi, bukan masalah. Misal, saat si kecil terjatuh dan menangis atau berteriak-teriak, sebaiknya Bunda tak langsung memarahi atau menolongnya, berikan anak solusi. Minta ia diam, lalu ajari anak mengobati lukanya sendiri.

Kemandirian dapat mulai diajarkan saat si kecil sudah mulai bisa bicara dan sudah bisa membedakan kanan dan kirinya. Membuat anak mandiri yaitu dengan tidak selalu memberikan bantuan  pada hal-hal yang dapat dilakukan sendiri oleh anak.

Jangan pernah mengeluh di hadapan anak, juga sebaiknya memenag kita tidak mengeluh kepada manusia, mengeluhlah kepada Tuhan agar menemukan jalan keluar yang terbaik.

Ganti kata tidak bisa menjadi bisa, katakan apa yang anda inginkan bukan apa yang anda tidak inginkan. Dan fokus ke depan bukan ke masa lalu

Dalam berkomunikasi dengan anak, ada yang disebut THE MAGIC WORD. Hal-hal yang perlu Bunda perhatikan adalah :

-Anak tak mengerti kata jangan. Misal, Bunda berkata jangan berlarian, apa yang kemudian terjadi, si kecil pasti semakin kencang berlari bukan? Maka beri instruksi yang jelas, misal “jangan lari” menjadi “berjalan saja”, “jangan merebut mainan” menjadi “minta baik-baik”, dan sebagainya.

-Ubah kalimat negatif menjadi kalimat positif. Misal “anak saya pelit” menjadi “anak saya sedang belajar berbagi”, dan sebagainya.

- Berikan informasi singkat dan jelas

- Jelas memberikan pujian dan kritikan

-Kendalikan suara dan gunakan suara ramah

-Seringlah memberikan kejutan untuk anak. Tak perlu mahal. Kejutan bisa diberikan dengan permainan, misal menyembunyikan coklat untuk bermain menemukan harta karun. Pasti si kecil akan sangat antusias.

CHOOSE YOUR WORDS, ubah kata atau kalimat yang berkonotasi negatif dengan kata atau kalimat berkonotasi positif,

Misal, Susah=Menarik, Saya tidak tahu=Saya cari dulu. Dan sebagainya.

Anak adalah duplikasi orangtua. Saat orangtua sering mengatakan tidak tahu, maka anak juga akan berkata hal yang sama. Minta anak untuk mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri, dan bantu ia bila sudah berusaha namun tidak bisa.

Hal paling penting dalam  berkomunikasi dengan anak adalah KOMITMEN. Misal, anak tidak akan mendapatkan keinginannya bila meminta dengan menangis atau berteriak-teriak. Minta anak bicara baik-baik, dan bila ia sudah melakukannya maka turuti permintaannya. Dan berikanlah selalu apresiasi pada setiap kreativitas anak.

Demikian, semoga bermanfaat.

 

 

Views: 243

Comment by NIken TF Alimah on June 16, 2013 at 7:33am

sangat bermanfaat, mb wiwit!

Membaca tulisan mb wiwit, saya jadi langsung ingat materi kuliah kemarin. Sangat lengkap! Terus semangat kuliah yaa.. dan tentu saja, terus semangat berbagi ^_^

Salam kenal dari Salatiga ^_^

Comment by wiwit patriani on June 16, 2013 at 12:23pm

Alhamdulillah kalau bermanfaat mba niken :) SEMANGAAATTT!
Salam kenal kembali dari Grogol-Jakbar, terima kasih yaa :)

Comment by septi peni wulandani on June 16, 2013 at 7:02pm
kereeeen udah mulai share tulisan dan semangat di sini, keep learn and share ya mbaak, sampai jumpa hari Rabu
Comment by Yulianti on June 17, 2013 at 11:23am

cool !!! keep spirit mba wiwit...Salam kenal dari Padang... :)

Comment by Yustika Nur Rahmi Salorani on September 17, 2013 at 1:45pm

saya masih tidak mengerti dengan bagian :

"PROTECT YOURSELF, bila hambatan ada di diri orang lain, katakan pada diri sendiri Cancel, cancel, Go Away!" maksudnya apa ya Bunda? terima Kasih

Comment by wiwit patriani on September 18, 2013 at 8:38am

Hambatan dari luar mbak yaitu dari orang-orang di sekitar kita yang underestimate, pesimis atau negative thinking dengan usaha2 yg kita lakukan untuk mengubah diri menjadi orangtua yang lebih baik.

Seingat saya waktu itu Bu Septi mencontohkan, misalnya ibu-ibu yang mau datang ke kuliah offline lalu mendapat tanggapan dari tetangganya seperti "ngapain capek-capek kuliah segala" atau "jadi ibu ya ibu saja nggak usah pake embel-embel profesional", dll.

Nah kepada orang2 seperti itu kita harus meneguhkan hati, ucapkan mantra dalam hati "cancel, cancel, go away" atau "hambatan, hambatan, pergilah" mungkin seperti itu terjemahan bebasnya ya :)
Smg bermanfaat...


Comment

You need to be a member of Ibu Profesional to add comments!

Join Ibu Profesional

Award

Internet Sehat Bronze

Bronze Blog ISBA 2012

The BEST ICT for Education KNGA 2013

Penghargaan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan Dan Perindungan Anak RI 2013

Big 15 Komunitas Perempuan se Indonesia pilihan Koran JAWA POS 2013

Members

Blog Posts

Berlangganan IXL Math

Posted by septi peni wulandani on April 16, 2014 at 2:02pm 12 Comments

Ingin mendampingi anak-anak belajar matematika dengan mudah dan menyenangkan? Apakah anda mengalami kesulitan untuk menyusun kurikulum matematika yang menantang buat anak-anak? tidak perlu risau, karena Ibu Profesional mengajak anda lebih dekat mengenal www.ixl.com 

Apa itu IXL Math

adalah salah satu situs matematika untuk anak-anak pra sekolah - SMP. Situs ini berisi puluhan ribu soal-soal matematika interaktif dilengkapi dengan reward dan…

Continue

#Menata April :)

Posted by Andita Ariestika Aryoko on April 16, 2014 at 8:02am 0 Comments



Bismillahirrahmannirrahim, :)

Satu-persatu, sabar yaa nak, semua kan usai, semua kan terlewati, dan semua pasti kan berakhir bahagia,…

Continue

Peran ayah dalam pengasuhan anak

Posted by sarwendah indrarani on April 13, 2014 at 11:54pm 0 Comments

Akhir-akhir ini, pemerhati masalah anak banyak membahas tentang “Fatherless Country”, yaitu keadaan di sebuah negara dimana sang ayah ada secara fisik, tetapi tidak hadir secara psikologis. Telah ada komunitas yang dibentuk dan berbagai seminar diselenggarakan untuk mendukung peran ayah yang lebih besar dalam keluarga. Pertanyaan terbesar saat ini, apakah sosok ayah telah mendapatkan peran di dalam keluarga kita sendiri?

Mulai dari pencarian pasangan hidup

Ada…

Continue

Videos

  • Add Videos
  • View All

Photos

Loading…
  • Add Photos
  • View All

© 2014   Created by septi peni wulandani.

Badges  |  Report an Issue  |  Terms of Service