Dari Rumah, Pangan Tumbuh: Ibu Profesional X THSN Menyalakan Gerakan Kampung Mandiri Pangan dari Yoso Farm
- Media Komunikasi IP
- 19 hours ago
- 2 min read
KLATEN, 6 September 2026 — Ketahanan pangan ternyata tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Ia bisa tumbuh dari halaman rumah, dari pot kecil di sudut teras, dari sisa dapur yang diolah menjadi pupuk, bahkan dari keberanian sebuah keluarga untuk bertanya: “Apa yang bisa kami hasilkan sendiri?”
Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi napas kegiatan Training Fasilitator Kampung Mandiri Pangan (KMP) Ibu Profesional X THSN yang digelar pada 5–6 September 2026 di Yoso Farm, Klaten.
Para fasilitator dari lima regional Ibu Profesional—Solo, Jogja, Salatiga, Pacitan Raya, dan Semarang—berkumpul selama dua hari untuk belajar, mempraktikkan, sekaligus menyiapkan langkah membawa semangat kemandirian pangan kembali ke rumah dan lingkungan masing-masing.

Belajar dari keluarga yang memulai dari mimpi
Di Yoso Farm, para fasilitator tidak hanya belajar tentang tanaman. Mereka belajar tentang cara pandang. Mereka belajar dari sebuah gagasan membangun kemandirian pangan keluarga bahkan bermula dari sebuah “proposal pernikahan”. Yoso farm perlahan membangun konsep Ketapang Kencana—Ketahanan Pangan Keluarga Terencana, sebuah gagasan bahwa keluarga dapat merancang sendiri sistem pangan sesuai sumber daya yang dimiliki.

Filosofinya sederhana: mulai dari akhir.
Sebelum menanam, siapkan pupuknya. Sebelum memelihara ternak, siapkan sumber pakannya. Sebelum menghasilkan pangan, pikirkan terlebih dahulu sumber daya yang akan menopang keberlangsungannya.
Rumah pun dipandang sebagai sebuah laboratorium tanpa batas—tempat keluarga dapat terus mencoba, belajar, dan menemukan kemungkinan dari sumber daya yang sudah dimiliki.
Menariknya, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bahkan bagi peserta yang sehari-hari sudah dekat dengan pertanian. Salah seorang fasilitator dari Pacitan Raya yang juga seorang petani merasakan bahwa belajar di Yoso Farm memberinya cara pandang baru tentang bagaimana praktik pangan dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan kondisi keluarga serta lingkungan.

Pengalaman ini sekaligus mengingatkan bahwa KMP bukan ruang untuk mengajarkan satu cara yang dianggap paling benar. KMP adalah ruang belajar dan bertumbuh bersama.
Dua hari selesai, perjalanan justru dimulai
Bagi Bapak Widodo, keberhasilan training bukan berhenti pada banyaknya ilmu yang diperoleh selama dua hari.
Pesannya sederhana:
“Harapannya bisa dipraktikkan dengan baik dan istiqamah.”
Kini para fasilitator akan kembali ke regional masing-masing. Ilmu yang diperoleh tidak hanya akan dicoba bersama keluarga inti, tetapi perlahan dibawa dalam perjalanan mendampingi keluarga-keluarga lain di lingkungannya.
Membuka kesempatan bagi member Ibu Profesional di lima regional untuk tidak hanya belajar ilmu menanam, mengolah sampah, dan beternak, tetapi juga menyerap energi baik dari laku lampah para guru belajar di Yoso Farm.
Dua hari di Yoso Farm akhirnya bukanlah tujuan akhir.
Justru dari sinilah perjalanan dimulai.

Dari satu rumah, satu langkah kecil dicoba. Dari satu keluarga, keberdayaan mulai tumbuh. Dan dari banyak keluarga yang mau belajar bersama, sebuah gerakan perlahan hidup.
KMP
Photo credit: Septi Yuwana - Pengurus IP Jogja





Comments