top of page

BERGEMA Ibu Profesional Jepara, Mengukir Kenangan bersama Keluarga

1 hour ago
5 min read

JEPARA — Sebanyak 36 ibu, 32 ayah bersama 42 anak mengikuti kegiatan BERGEMA yang digelar Komunitas Ibu Profesional Jepara di PAUD Semai Jepara, Minggu (1/11/2026). Kegiatan yang diikuti 110 peserta ini menghadirkan ruang interaksi keluarga melalui permainan edukatif dan sesi refleksi untuk memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.



Kebersamaan keluarga menjadi pondasi kuat bagi anak dalam mengembangkan dirinya. Permainan ayah dan anak, kegiatan mini workshop ibu, dan ungkapan apresiasi keluarga merupakan sebuah bekal yang bisa mengantarkan keluarga untuk bergerak bersama menyelesaikan misi kehidupan masing-masing dengan bahagia. Semangat inilah yang hadir dalam BERGEMA (Berbagi, Bergerak, Bersama), sebuah program nasional Ibu Profesional yang mengajak keluarga membangun kedekatan melalui aktivitas bersama.


BERGEMA diselenggarakan serentak di 50 regional Ibu Profesional di Indonesia sepanjang Juli hingga Desember 2026. Program ini mengusung semangat Growing Families, Growing Future, dengan menjadikan keluarga sebagai ruang utama tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak. Salah satu perhatian utamanya adalah memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan melalui permainan, pembelajaran, dan pengalaman bersama anak. Dalam pelaksanaan program nasional ini, BERGEMA juga mendapat dukungan publikasi melalui kolaborasi dengan Tempo dan Cantika sebagai media partner. Kemitraan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan informasi mengenai gerakan penguatan keluarga yang berlangsung di berbagai regional Ibu Profesional.



Ibu Profesional merupakan komunitas perempuan pembelajar yang menyediakan ruang bertumbuh bagi para ibu dan calon ibu. Saat ini, komunitas tersebut memiliki 65 regional yang tersebar di Indonesia dan mancanegara, mencakup empat benua. Jaringan ini menjadi wadah belajar dan berproses bersama sesuai domisili anggotanya.


Salah satu regional yang terpilih menyelenggarakan program nasional BERGEMA adalah Ibu Profesional Jepara. Pada Minggu, 1 November 2026, kegiatan berlangsung di Sekolah Semai Jepara dengan mengusung tagline Mengukir Kenangan Bersama Keluarga. Kegiatan ini diikuti 42 anak, 35 ayah, dan 36 ibu. Rangkaian acaranya dirancang dalam dua kegiatan utama, yaitu Aku dan Bapakku (AnB) untuk ayah dan anak serta Mini Workshop Pandu 45 untuk para ibu.


Sejak pukul 08.00 WIB, peserta mulai berdatangan untuk melakukan registrasi di Sekolah Semai Jepara. Acara dimulai tepat waktu, yaitu 08.30 WIB. Sebelum acara pembukaan, peserta dan panitia mengikuti senam Homi sebanyak dua kali dan senam Beebo satu kali. Dua maskot BERGEMA, Homi dan Beebo, turut memeriahkan suasana. Homi diperankan oleh Yunika, sedangkan Beebo diperankan oleh Nineng. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari identitas kegiatan sekaligus menciptakan suasana yang lebih akrab bagi anak-anak.


Acara pembukaan berlangsung pukul 08.30 WIB, oleh MC Cindy. Rangkaian sambutan diawali oleh Shofwati Azizah, M.Pd., selaku perwakilan Yayasan Semai Jepara. Sambutan berikutnya disampaikan Anif Rahmawati selaku PIC Bergema IP Regional Jepara. Acara dilanjutkan dengan penyerahan beasiswa pendidikan anak usia dini dari The Human Safety Net (THSN) kepada 10 anak terpilih. Dukungan ini menjadi bagian dari dimensi sosial BERGEMA yang tidak hanya berfokus pada penguatan hubungan keluarga, tetapi juga membuka kesempatan belajar bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan.


Setelah penyerahan beasiswa, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan Papan Donasi Global Challenge. Donasi tersebut ditujukan untuk mendukung keberlanjutan aktivitas dan dampak program Aku dan Bapakku. Dukungan ini memiliki keterkaitan dengan Mini Workshop Pandu 45 yang diikuti para ibu. Dengan demikian, kedua kegiatan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun keluarga melalui keterlibatan ayah, ibu, dan anak.


Usai rangkaian pembukaan, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Para ayah dan anak mengikuti sesi Aku dan Bapakku di lapangan utama. Sementara itu, para ibu menuju aula untuk mengikuti Mini Workshop Pandu 45 bersama Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto.


Sesi Aku dan Bapakku difasilitasi Cindy dan Fathiya dengan pendampingan maskot Homi dan Beebo. Kegiatan dirancang melalui permainan yang mengajak ayah dan anak membangun komunikasi, melatih kerja sama, serta menyelesaikan tantangan bersama. Permainan tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media untuk menciptakan interaksi yang lebih dekat antara ayah dan anak.


Terdapat tiga permainan utama dalam sesi tersebut. Pos pertama menghadirkan permainan Tupai, pos kedua permainan Jepit Balon, dan pos ketiga permainan Tebak Tangan. Ayah dan anak melakukan rotasi pos beberapa kali untuk menyelesaikan tantangan yang berbeda. Pergantian aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada setiap pasangan untuk mencoba pengalaman baru dan membangun interaksi melalui cara yang beragam. Bagi dua anak yatim yang mengikuti sesi ini, keseruan itu tetap terasa berkat Irwan, suami salah satu panitia, yang setia menemani mereka bermain dari pos ke pos.



Setelah menyelesaikan permainan, ayah dan anak mengikuti sesi refleksi Gali dan Gema. Keduanya merupakan bagian dari rancangan program BERGEMA pusat. Lembar refleksi telah disediakan dalam goodie bag peserta. Bagian Gali terdiri atas lembar refleksi untuk ayah dan anak, sedangkan bagian Gema berisi Komitmen Ayah. Melalui tahapan ini, peserta diajak menggali pengalaman selama bermain dan merumuskan komitmen yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.



Pada waktu bersamaan, para ibu mengikuti Mini Workshop Pandu 45. Sesi yang dipandu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto ini mengajak peserta melakukan refleksi mengenai kehidupan keluarga. Pembahasan diarahkan pada hubungan antaranggota keluarga, pola komunikasi, serta pentingnya saling menghargai. Para ibu memperoleh ruang untuk melihat kembali peran dan kontribusinya dalam membangun kehidupan keluarga.


Kedua kegiatan diselesaikan secara bersamaan agar seluruh anggota keluarga dapat berkumpul kembali untuk mengikuti rangkaian berikutnya. Di lapangan, para ibu memberikan medali kepada anak-anak dan surat cinta kepada suami. Medali tersebut membawa pesan bahwa semua anak adalah pemenang, sedangkan surat cinta untuk menumbuhkan kembali semangat ayah dan ibu dalam membersamai pertumbuhan dan perkembangan anak. Penghargaan ini bukan semata-mata diberikan atas keberhasilan menyelesaikan permainan, melainkan sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha, keberanian, dan kebersamaan anak bersama ayahnya.


Suasana berubah menjadi lebih emosional ketika para anggota keluarga saling menyampaikan perasaan. Beberapa keluarga berpelukan dan mengungkapkan rasa terima kasih. Surat cinta menjadi sarana bagi para ibu untuk menyampaikan kasih sayang dan penghargaan kepada pasangan. Sementara itu, medali menjadi simbol bahwa setiap anak layak mendapatkan apresiasi atas proses yang telah dilaluinya.


Momen mengharukan lainnya juga terlihat saat bu Septi menggantikan peran ibu mengalungkan medali kepada anak beasiswa yang kehilangan ibunya. Wajah bangga dan bahagia tersirat dari ayah dan anak karena bisa merasakan keluarga yang utuh seperti peserta lainnya.


Setelah momen apresiasi, pembawa acara memanggil perwakilan peserta untuk menyampaikan testimoni. Salah satu anak mengungkapkan kegembiraannya selama kegiatan berlangsung. "Aku seneng bisa main sama ayah," ujarnya.


Dari kalangan orang tua, seorang ayah mengaku mendapat kesadaran baru lewat acara tersebut. "Saya sadar bahwa anak harus bonding dengan bapaknya," kata Syukron.


Hal senada disampaikan Diah, salah satu ibu peserta. Ia menilai kegiatan ini memberi manfaat bagi dirinya sekaligus anaknya.

"Saya senang hari ini karena dapat ilmu dan pengalaman baru. Anak-anak juga antusias," tuturnya.


Perwakilan ayah, ibu, dan anak ini berasal dari keluarga yang berbeda. Kesempatan ini memberikan ruang bagi setiap anggota keluarga untuk menceritakan pengalaman dan kesan mereka selama mengikuti kegiatan. Rangkaian tersebut juga disertai pembagian doorprize kepada peserta.

Kegiatan kemudian ditutup dengan high energy ending yang mengembalikan semangat kebersamaan seluruh peserta. Penutupan ini menjadi akhir dari rangkaian aktivitas yang sejak awal dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar melalui permainan, refleksi, dan apresiasi keluarga.


Ibu Profesional Jepara sendiri merupakan komunitas perempuan dan ibu pembelajar yang menjadi bagian dari jejaring resmi Ibu Profesional Indonesia. Komunitas ini berdiri pada Februari 2013 dan menaungi anggota di wilayah Jepara, Kudus, Pati, Rembang, serta Blora. Keanggotaannya terbuka bagi perempuan yang memiliki semangat belajar dan bertumbuh bersama, tanpa mensyaratkan status sebagai ibu.


Selain BERGEMA, Ibu Profesional Jepara mengembangkan berbagai kegiatan pembelajaran dan pemberdayaan perempuan. Di antaranya Festival Perempuan Pemimpin sebagai ruang refleksi kepemimpinan perempuan dan Foundation Akar Ibu (FAI) sebagai program penerimaan anggota baru. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya komunitas dalam membangun lingkungan belajar yang melibatkan perempuan, keluarga, dan masyarakat.


Melalui BERGEMA Jepara, kebersamaan keluarga memperoleh ruang untuk diwujudkan dalam pengalaman nyata. Ayah dan anak belajar membangun komunikasi melalui permainan. Para ibu memperoleh kesempatan berefleksi mengenai kehidupan keluarga. Seluruh anggota keluarga kemudian dipertemukan dalam momen apresiasi yang mengingatkan pentingnya saling menghargai.


Lebih dari sekadar kegiatan sehari, BERGEMA membawa pesan bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama. Kehadiran ayah tidak hanya dibutuhkan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga dalam pendampingan dan perkembangan anak. Ibu pun membutuhkan ruang untuk bertumbuh dan membangun komunikasi yang sehat bersama keluarga. Sementara itu, anak membutuhkan perhatian, keteladanan, dan penghargaan dari kedua orang tuanya.



Melalui semangat Berbagi, Bergerak, Bersama, BERGEMA Ibu Profesional Jepara berupaya menghadirkan pengalaman yang dapat dibawa pulang oleh setiap keluarga. Kenangan dari permainan, refleksi, surat cinta, dan medali diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan. Semua itu dapat menjadi awal bagi kebiasaan baru dalam membangun hubungan keluarga yang lebih dekat dan saling menghargai.


Ibu Profesional Jepara

IG @ibuprofesionaljepara

 
 
 

Comments


bottom of page