top of page

Dari Tilako Banga hingga Ketapel, BERGEMA Sulawesi Tengah Mengajak Ayah Menemukan Kembali Arti “Hadir” bagi Anak

Palu, 25 Agustus 2026 — Suara tawa anak-anak berpadu dengan semangat para ayah yang kembali memainkan permainan masa kecil mereka. Ada yang mencoba berjalan dengan tilako banga, bekerja sama memindahkan bola, hingga membuat ketapel bersama anak. Pagi itu, halaman Kantor Inspektorat Daerah Sulawesi Tengah menjadi ruang bermain sekaligus ruang refleksi bagi keluarga melalui BERGEMA 2026 “Nomore Ante Tomaku”.


Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional Sulawesi Tengah bekerja sama dengan The Human Safety Net (THSN) sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional BERGEMA ini berlangsung pada Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 08.00–11.00 WITA. Kegiatan diikuti oleh 31 ibu, 28 ayah, dan 41 anak berusia 3–8 tahun.



Mengangkat tema “Nomore Ante Tomaku”, yang berarti “Bermain bersama Bapakku” dalam bahasa Kaili, BERGEMA menghadirkan pengalaman yang secara khusus mengajak ayah dan anak membangun kedekatan melalui permainan, sementara para ibu mendapatkan ruang belajar melalui sesi Mom’s Corner – Workshop Pandu 45.


Ketika bermain menjadi bahasa kasih seorang ayah

Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan maskot BERGEMA, Beebo dan HOMI, dilanjutkan dengan aktivitas menari dan bergerak bersama. Suasana kemudian berlanjut dengan sesi berbagi kepada 10 anak penerima beasiswa usia dini dari The Human Safety Net, yang berasal dari TK IT Qurrota Ayyun Biromaru dan TK IT Qurrota Ayyun Palupi.


Memasuki sesi utama, ayah dan anak menuju area permainan, sementara para ibu mengikuti Workshop Pandu 45 bersama Ibu Septi Peni Wulandani dan Bapak Dodik Maryanto, Founder dan Inisiator Ibu Profesional.


Dalam sesi “Aku & Bapakku”, keluarga diajak mengikuti tiga pos permainan yang dirancang untuk menguatkan komunikasi, kerja sama, dan kedekatan antara ayah dan anak.


Pada pos pertama, ayah dan anak memainkan tilako banga atau bakiak egrang dari batok kelapa, yang dipadukan dengan aktivitas motorik anak. Permainan tersebut tidak hanya menghadirkan keceriaan, tetapi juga menjadi pintu bagi para ayah untuk mengenalkan kembali permainan tradisional yang pernah hadir dalam masa kecil mereka.


Pos berikutnya menghadirkan permainan kerja sama tim. Peserta harus memindahkan bola dari satu wadah ke wadah lainnya menggunakan ember kecil yang dikendalikan melalui beberapa tali. Komunikasi, koordinasi, dan kemampuan mendengarkan menjadi kunci untuk menyelesaikan tantangan.


Di pos terakhir, ayah dan anak membuat ketapel dari bahan-bahan tradisional. Bagi sebagian ayah, kegiatan ini menjadi perjalanan singkat kembali ke masa lalu sekaligus kesempatan untuk mengenalkan pengalaman masa kecil kepada generasi berikutnya.


“Bermain di sini saat ini membuat saya mengingat masa kecil saya. Apalagi ketika mengajarkan anak saya yang laki-laki ini membuat ketapel, senang sekali rasanya.”

— Rizal, peserta BERGEMA 2026


Setelah bermain, para ayah mengikuti sesi refleksi untuk mengalirkan pengalaman dan perasaan mereka selama bermain bersama anak. Momen tersebut kemudian dilanjutkan dengan Kartu Janji Bapak, tempat para ayah menuliskan komitmen sederhana untuk meluangkan waktu bersama anak, mulai dari membacakan buku setiap hari hingga bermain bersama setiap minggu.


Pesan tersebut sejalan dengan temuan UNICEF bahwa keterlibatan ayah dalam aktivitas bermain dan pembelajaran anak memiliki kaitan dengan perkembangan anak. Dalam analisis UNICEF terhadap 74 negara, 55 persen anak usia 3–4 tahun, atau sekitar 40 juta anak, tidak melakukan aktivitas bermain atau belajar bersama ayahnya. UNICEF juga menekankan bahwa interaksi positif dengan ayah berkaitan dengan kesehatan psikologis, rasa percaya diri, dan kepuasan hidup anak dalam jangka panjang.


UNICEF menegaskan bahwa bermain, berbicara, bernyanyi, dan melakukan aktivitas bersama orang tua merupakan bagian penting dari responsive caregiving yang mendukung perkembangan anak usia dini.


Saat ibu belajar, ayah dan anak bermain

Di waktu yang sama, para ibu mengikuti Mom’s Corner berupa Workshop Pandu 45, yang membahas bagaimana orang tua dapat menggali minat dan bakat anak melalui 45 ragam aktivitas serta mengamati potensi yang dimiliki anak.

Bagi Yunita, salah satu peserta workshop, materi tersebut menjadi pengalaman baru yang relevan dengan tahap perkembangan anaknya.


“Saya baru pertama kali ikut kegiatan Ibu Profesional ini. Materi ini sangat menarik, terutama untuk saya yang memiliki anak umur 4 tahun. Momen di waktu ini yang harus saya eksplorasi untuk anak saya agar saya benar-benar tahu apa potensi dan bakat anak saya.”

— Yunita, peserta BERGEMA 2026



Kegiatan ini sejalan dengan semangat Ibu Profesional sebagai forum belajar bagi ibu dan calon ibu untuk meningkatkan kualitas diri, belajar bersama, dan bertumbuh bersama.


Sementara itu, kolaborasi dengan The Human Safety Net turut memperkuat fokus kegiatan pada ketahanan keluarga dan perkembangan anak. Di Indonesia, The Human Safety Net bekerja sama dengan Ibu Profesional melalui program yang mendukung penguatan keluarga, pendidikan pengasuhan, perkembangan anak, pemetaan bakat, serta literasi keuangan.


Satu kalimat ayah yang membuat suasana hening

Setelah seluruh permainan selesai, ayah, ibu, dan anak kembali berkumpul dalam sesi penutupan. Doorprize menjadi salah satu bagian yang membuat suasana kembali meriah.

Namun, di tengah keceriaan tersebut, satu cerita dari seorang ayah membuat suasana berubah menjadi haru.


Aswat, salah satu peserta, membagikan alasan personal mengapa kesempatan bermain bersama anak memiliki arti yang begitu besar baginya.

“Sejujurnya saya sedih dan senang sekali hari ini. Saya sedih karena mengingat saya dulu tidak bisa bermain bersama ayah saya karena beliau sudah wafat ketika saya masih kecil. Sejak saya menjadi ayah, saya selalu berjanji untuk selalu punya waktu main dengan anak-anak saya. Kegiatan ini benar-benar memfasilitasi keinginan saya, karena pengasuhan bukan saja urusan ibu, tapi juga urusan seorang ayah.”

— Aswat, peserta BERGEMA 2026


Kisah tersebut menjadi refleksi sederhana bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang, ia dimulai dari duduk bersama, bermain bersama, mendengarkan cerita anak, atau menyediakan waktu untuk hadir sepenuhnya.


Hal ini juga sejalan dengan pendekatan nurturing care yang dikembangkan UNICEF dan WHO, yang menempatkan orang tua dan pengasuh sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, responsif, dan mendukung perkembangan anak.


BERGEMA: dari keluarga, untuk masa depan

Melalui BERGEMA 2026 “Nomore Ante Tomaku”, Ibu Profesional Sulawesi Tengah dan The Human Safety Net ingin menghadirkan ruang yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga memberi kesempatan kepada keluarga untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan kembali menemukan arti kebersamaan.


Sebab bagi anak, kenangan tentang masa kecil tidak selalu lahir dari tempat yang mahal atau kegiatan yang mewah. Bisa jadi, kenangan yang paling melekat justru berasal dari sore ketika ayah mengajarinya bermain, dari tawa saat gagal berjalan dengan bakiak, atau dari sebuah ketapel sederhana yang dibuat bersama.


BERGEMA percaya bahwa keluarga yang bertumbuh dimulai dari orang tua yang mau hadir, mendengar, bermain, dan belajar bersama.


Sampai jumpa di Bergema kota berikutnya!

1 Comment


Ainum Hidayah
23 minutes ago

Apakah agenda ini juga akan ada di Kota Ternate-Maluku Utara?

Like
bottom of page