top of page

Talkshow “Panduan Pengasuhan di Era Digital” Ajak Orang Tua Lebih Cerdas Mendampingi Anak di Dunia Maya

Medan, 27 Juli 2025 — Di era digital saat ini, memiliki akun media sosial bukan lagi hal yang asing bagi anak-anak. Namun, di balik dunia maya yang tampak menyenangkan, ada banyak risiko yang sering kali tidak disadari, mulai dari paparan konten yang tidak sesuai usia, konten yang melanggar value dan prinsip keluarga, cyberbullying, hingga potensi pertemanan yang berbahaya. Karena itu, pengawasan orang tua menjadi kunci penting.


Pengawasan bukan berarti membatasi secara ketat atau mengintai setiap gerak-gerik anak, tetapi membangun komunikasi yang sehat. Orang tua harus terus belajar dan beradaptasi pada dunia digital agar cerdas digital, mampu memanfaatkan teknologi untuk mengontrol aktivitas anak di dunia maya, khususnya di usia remaja.


Salah satu cara belajar memahami dunia digital dilakukan dengan mengikuti Talkshow "Panduan Pengasuhan di Era Digital" yang diselenggarakan oleh Keluarga Kita dan Meta pada tanggal 27 Juli 2025 di Easy Eats Cafe, Jl. Monginsidi No. 28 Medan. Delapan perwakilan dari Ibu Profesional Regional Sumatera Utara yang hadir dalam acara ini adalah Nadia Rosalin, Cecilia Olandakana, Sri Wahyuni, Sari Sakinah Jaya, Adek Ardiyany, Rita Lisnawati, Rowfi Fitriana, dan Elva Citra Sari.


Perwakilan Ibu Profesional di Talkshow "Panduan Pengasuhan di Era Digital"
Perwakilan Ibu Profesional di Talkshow "Panduan Pengasuhan di Era Digital"

Talkshow ini dipandu oleh Siti Nur Andini (Direktur Keluarga Kita), bersama narasumber Dessi Sukendar (Policy Programs Manager Indonesia - Meta) dan Yulia Indriati (Ketua Yayasan Rangkul Keluarga Kita Berdaya).


Acara berlangsung dengan baik, dimulai tepat waktu. Anak-anak yang dibawa oleh orang tuanya didampingi khusus untuk berkegiatan bersama anak lain sehingga orang tua bisa fokus mendengarkan materi dan mengikuti acara dari awal sampai dengan akhir. Panitia juga mempersilakan peserta membawa pasangan untuk bisa belajar bersama.


Pada awal kegiatan, narasumber mencari tahu apa saja yang diketahui orang tua tentang dampak negatif dunia digital yang tidak disadari oleh keluarga. Dampak negatif ini dapat menimbulkan kekhawatiran, namun terkadang kekhawatiran tersebut hanya menumpuk dalam hati sementara orang tua merasa tidak tahu atau tidak melakukan apa pun.


Orang tua saat ini ada yang sibuk dengan tanggung jawab sehari-hari sehingga lalai atau tidak sempat memantau informasi yang diakses anak dari gawainya. Anak belum bisa mengontrol diri dan berisiko mengakses informasi atau paparan digital sehingga bisa lupa waktu, scrolling terus-menerus yang berdampak anak menjadi ketergantungan dan susah melepaskan diri dari ketergantungan tersebut. Ketergantungan ini akan mempengaruhi perilaku sehari-hari, rasa tanggung jawab bahkan ada yang sampai lupa makan.


Value keluarga yang positif kadang kalah dengan apa yang didapatkan anak dari gawainya. Konsumerisme bisa saja terjadi misalnya orang tua yang kebobolan dana digitalnya untuk top up games. Kebiasaan mengonsumsi video pendek harus menjadi perhatian keluarga. Anak yang belum siap pemahaman dan penguasaan bahasanya bisa menyebabkan speech delay.


Dampak lain pada anak usia sekolah antara lain anak tidak bisa mengikuti pelajaran, tidak bisa fokus, tidak mudah bergaul, sosial emosional yang tidak baik. Kecanduan pada dunia digital ini juga bisa berdampak pada aspek fisik anak. Anak-anak yang terus bermain sambil makan, kurang aktivitas fisik bahkan juga terkadang kurang gizi. Aspek literasi kurang, maka sosialisasi ke masyarakat/pertemanan juga berdampak. Jika terus dibiarkan kebiasaan dan hal negatif dari dunia digital ini bisa berdampak di masa yang akan datang. Tantangan negatif digitalisasi juga semakin kompleks seperti pornografi, LGBTQ, konsumerisme bahkan judi online.


Kehadiran dunia digital tidak dapat kita hindari, namun harus dikelola dengan baik. Mba Dessi (Meta) mengingatkan orang tua dalam mendampingi anak cerdas melakukan aktivitas di dunia digital. Orang tua harus mendampingi anak usia di bawah 13 tahun. Anak di bawah usia tersebut tidak direkomendasikan berkegiatan digital bahkan memiliki akun sosial media sendiri, aktivitas anak di dunia maya harus didampingi.


Orang tua juga harus mengetahui dan menjadi contoh menerapkan screen time. Saat ini Meta mengklasifikasikan pengguna berdasarkan usia yang saat ini akun remaja bisa digunakan untuk belajar. Orang tua yang memiliki akun yang terhubung dengan anak bisa melihat aktivitas anak di dunia maya seperti screen time, siapa saja yang berinteraksi, melihat direct message, ataupun melaporkan akun yang dicurigai melakukan hal yang melanggar panduan komunitas. Jika terjadi masalah di sosial media keluarga, baik orang tua dan anak, gunakan fitur resmi yang menjadi saluran resmi untuk melaporkan hal tersebut, bukan posting di sosial media.


Salah satu caranya dengan menggunakan Parental Supervision Tools dari Meta yaitu menu Family Center misalnya pada aplikasi Instagram. Di sini akun anak akan terkoneksi dengan akun orang tua sehingga orang tua dapat melihat siapa saja akun yang diikuti atau mengikuti anak, durasi penggunaan Instagram anak, notifikasi jika anak melaporkan akun atau postingan Instagram dan jenis laporannya.


Bu Yulia, mengingatkan jika anak sudah punya akun sosmed padahal belum pada usia siap digital, lalu anak tersebut menunjukkan aktivitas negatif, sebaiknya aktivitas di dunia maya dihentikan/diputuskan. Jika anaknya tantrum, tenangkan dan dampingi.


Bagaimana mendampingi anak dalam menggunakan digital? Salah satu caranya ngobrol dan mendiskusikan. Jika ortu susah ngobrol, maka PR-nya belajar ngobrol dulu sebagai orang tua. Kontrol diri harus kuat, dan membangun kontrol diri ini dimulai dari rumah. Orang tua harus belajar membangun hubungan yang aman bersama anak.


Selain talkshow, setiap peserta juga diberikan board game yang bisa dimainkan bersama anak tentang dunia digital. Board game berisi pertanyaan-pertanyaan pemantik yang bisa membangun interaksi untuk menggali informasi dan mengetahui bagaimana sikap atau perilaku anak dalam bersosial media.


Comments


bottom of page