Ibu Juga Berhak Punya Mimpi: Menghapus Rasa Bersalah Saat Bertumbuh
- Media Komunikasi IP
- 56 minutes ago
- 3 min read
Dalam banyak budaya, peran ibu masih kerap dipersempit pada pengorbanan tanpa henti. Ibu diharapkan selalu hadir, selalu memberi, dan sering kali menomorduakan kebutuhan dirinya sendiri. Akibatnya, ketika seorang ibu ingin bertumbuh melalui pendidikan, karier, aktivitas sosial, atau pengembangan diri, muncul rasa bersalah yang sering membebani kesehatan mentalnya.
Padahal, dalam penelitian yang dipublikasikan dalam BMC Pediatrics menunjukkan bahwa kesejahteraan ibu dan kualitas pengasuhan memiliki hubungan signifikan dengan risiko masalah perkembangan anak pada usia sekolah (Taylor et al., 2013).

Oleh karena itu, menghapus rasa bersalah saat ibu bertumbuh bukan sekadar isu personal, melainkan isu sosial dan pembangunan manusia.
Ibu sebagai Subjek Pembangunan, Bukan Sekadar Objek Pengorbanan
Rasa bersalah pada ibu sering kali bukan disebabkan oleh tindakan yang keliru, melainkan oleh norma sosial yang menempatkan ibu sebagai figur yang harus selalu mendahulukan orang lain. Ketika pertumbuhan diri dianggap bertentangan dengan peran keibuan, ibu berada dalam dilema antara memenuhi ekspektasi sosial dan memenuhi kebutuhan psikologisnya sendiri.
Narasi ini berisiko menciptakan kelelahan emosional berkepanjangan, yang pada akhirnya justru menghambat fungsi pengasuhan yang sehat.
Dalam pendekatan pembangunan berkelanjutan, perempuan termasuk ibu, dipandang sebagai agen perubahan (change agents). Namun, narasi domestik yang menempatkan ibu hanya sebagai figur pengorbanan sering kali menghambat potensi ini.
Ibu Profesional memandang ibu sebagai:
individu yang memiliki hak untuk bertumbuh,
pemimpin nilai di dalam keluarga,
dan aktor strategis dalam pembangunan manusia.
Dengan perspektif ini, pertumbuhan diri ibu bukan ancaman bagi peran keluarga, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas masyarakat.
Fakta Kunci: Mengapa Pertumbuhan Ibu Penting bagi Keluarga dan Bangsa
Kesehatan Mental Ibu Mempengaruhi Perkembangan Anak
Organisasi kesehatan dunia menegaskan bahwa kesehatan mental ibu berkaitan erat dengan kesehatan emosional, sosial, dan kognitif anak. Ibu yang mengalami stres kronis dan kelelahan emosional berisiko mengalami penurunan kualitas interaksi dengan anak.
Sebaliknya, ibu yang memiliki ruang untuk bertumbuh dan merawat dirinya cenderung lebih responsif, stabil secara emosional, dan mampu membangun hubungan yang aman dengan anak.
Anak Belajar Nilai Kehidupan dari Teladan
Penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak belajar melalui observasi. Ketika anak melihat ibunya belajar, berproses, dan menghargai dirinya sendiri, anak menyerap pesan bahwa:
belajar adalah proses seumur hidup,
perempuan memiliki hak atas mimpi dan aspirasi,
dan peran keluarga tidak menghapus identitas personal.
Rasa Bersalah Bukan Indikator Moral, Melainkan Produk Tekanan Sosial
Dalam banyak kasus, rasa bersalah muncul bukan karena ibu melakukan kesalahan, tetapi karena adanya standar ideal keibuan yang tidak realistis. Memahami hal ini membantu ibu memisahkan antara tanggung jawab yang sehat dan tuntutan sosial yang berlebihan.
Bertumbuh Tidak Berarti Meninggalkan Peran Ibu
Bertumbuh tidak selalu berarti perubahan besar atau drastis. Ia bisa hadir dalam bentuk langkah kecil namun berkelanjutan, seperti:
mengikuti pelatihan atau kelas daring,
terlibat dalam komunitas,
membaca dan menulis,
mengembangkan hobi yang selama ini tak tersentuh,
atau berkontribusi dalam kegiatan sosial.
Pertumbuhan diri justru memperkaya peran keibuan, karena ibu hadir sebagai individu yang utuh bukan sekadar menjalankan fungsi, tetapi juga memiliki makna.
Strategi Praktis Mengurangi Rasa Bersalah Saat Bertumbuh
Membangun Kesadaran Narasi Internal
Mengganti narasi “aku egois” atau “aku berkorban” menjadi “aku sedang merawat keberlanjutan diriku”. Hal ini membantu ibu memandang pertumbuhan sebagai kebutuhan, bukan kesalahan.
Melibatkan Keluarga dalam Proses Bertumbuh
Komunikasi terbuka dengan pasangan dan anak membantu menciptakan pemahaman bahwa pertumbuhan ibu adalah bagian dari dinamika keluarga, bukan ancaman bagi keharmonisan.
Menentukan Skala Pertumbuhan yang Realistis
Setiap ibu memiliki konteks dan kapasitas yang berbeda. Pertumbuhan tidak perlu dibandingkan, tetapi disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Menguatkan Dukungan Sosial dan Komunitas
Keberadaan komunitas yang aman dan suportif terbukti menurunkan stres dan meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam menjalani perannya.
Menerima Bahwa Rasa Bersalah Bisa Hadir Tanpa Mengendalikan
Tujuannya bukan menghilangkan rasa bersalah secara instan, tetapi memastikan bahwa perasaan tersebut tidak menjadi penentu utama arah hidup ibu.
Ibu yang bertumbuh bukan ibu yang mengabaikan keluarga. Ia adalah ibu yang berinvestasi pada keberlanjutan dirinya, demi relasi yang lebih sehat dan generasi yang lebih kuat. Memberi ruang bagi ibu untuk bermimpi, belajar, dan berkembang adalah bagian dari upaya membangun keluarga, komunitas, dan masyarakat yang berdaya.
Hai Ibu, yuk berani merajut mimpi kembali!
Source
Taylor, C. L., et al. (2013). Maternal well-being, parenting morale, and child development. BMC Pediatrics.
UN Women. Women’s leadership and empowerment in families and communities.
OECD. Doing Better for Families.





Comments