Konferensi Perempuan Indonesia: Menenun Akar Budaya, Menyalakan Obor Perubahan
- Media Komunikasi IP
- Jul 16
- 3 min read
Dari Kearifan Lokal hingga Gerakan Global, Perempuan Bergerak Membentuk Indonesia Masa Depan
Jakarta, 16 Juli 2025. Dalam gelombang perubahan zaman, perempuan Indonesia tak sekadar ikut arus, mereka adalah akar yang menjejak kuat pada budaya, sekaligus arus yang mendorong transformasi sosial. Dua sesi berturut dalam Konferensi Perempuan Indonesia (KPI) Online 2025, sesi ke-7 dan ke-8, kembali menghadirkan kisah, gerakan, dan refleksi mendalam tentang bagaimana perempuan menjadi penggerak dalam pelestarian kearifan lokal dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG’s).

Sesi 7: Perempuan, Kearifan Lokal & Identitas Nasional
Dibuka dengan permainan tebak lagu daerah yang memantik semangat, sesi pagi ini menghadirkan Ara Kusuma, Young Leader dan salah satu dari 50 Explorer Dunia versi National Geographic Global. Didampingi oleh Karinta Utami, sesi ini mengangkat tema: “Perempuan, Kearifan Lokal & Identitas Nasional”.
Ara memulai dengan pertanyaan menggugah: “Apakah ‘jam karet’ adalah budaya?” Sambil tertawa, ia mengajak peserta untuk tidak cepat menghakimi suatu kebiasaan tanpa menelaah konteks dan nilai di baliknya. “Kearifan lokal itu hidup dalam kebiasaan harian kita. Tapi seringkali, kita menggunakannya tanpa menyadari nilai yang dikandungnya,” ujar Ara.
Ara menyoroti potensi perempuan dalam menjaga dan menghidupkan budaya lokal, seperti tradisi mendongeng, pemanfaatan tanaman obat keluarga, dan kerajinan tradisional. Ia mengajak peserta untuk mulai dari hal kecil: mengamati lingkungan sekitar, mencatat, dan membicarakan nilai-nilai lokal bersama keluarga. “Itulah akar. Dari situ kita bangun identitas dan gerakan perempuan Indonesia,” tutupnya.
Karinta menambahkan di sesi akhir, “Di balik batik yang kita kenakan, di balik bahasa yang kita gunakan, ada sejarah, ada doa, dan ada perempuan-perempuan hebat yang menjaganya.”
Sesi 8: Gerakan Perempuan & SDG’s, Dari Rumah Menuju Perubahan Dunia
Dipandu oleh Mentari dan Ariel, ikon KPI 2025, sesi ini mempertemukan para penggerak perempuan yang telah menciptakan dampak nyata di komunitasnya melalui beragam inisiatif berbasis SDG’s.
Sesi ini dibuka oleh Rufina Kristianawati, core team THSN Indonesia (The Human Safety Net), partner KPI 2025. Rufina menegaskan komitmen THSN dalam mendampingi keluarga rentan di Indonesia. “Konsep kami: people helping people. Sejalan dengan gotong royong, jati diri bangsa yang tak lekang zaman.” Sejak 2018, THSN telah membantu lebih dari 22 ribu anak dan keluarga.
Sesi dilanjutkan dengan menghadirkan para leader gerakan, yang merupakan kelanjutan dari inisiatif Konferensi Perempuan Indonesia 2023. Kehadiran para penggerak ini menjadi bukti konkret bahwa Ibu Profesional tak sekadar berbicara tentang nilai, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam solusi global. Melalui gerakan-gerakan berbasis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mereka menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah, dari keluarga, dan dari perempuan Indonesia yang sadar akan perannya dalam membangun masa depan bangsa dan dunia. Berikut adalah nama-nama leader gerakan yang berbagi gerakan kebaikan mereka.
Fajrina Addien (Beauty Logic Academy – SDG 5: Gender Equality)
Dari pengalaman pribadi yang penuh luka akibat bullying, Fajrina membangun akademi untuk membentuk persepsi kecantikan yang lebih sehat, multi-dimensi, tidak hanya fisik, tapi juga kepercayaan diri dan kematangan emosi.
Yulianti (Cycle Organic Farming – SDG 4: Quality Education)
Berangkat dari tantangan alergi dan keterbatasan pangan, Yulianti merintis pertanian siklus organik yang mengedukasi masyarakat memanfaatkan pekarangan dan sampah konsumsi rumah tangga.
Hilda Lu’lu’in (Rumah Pelita – SDG 8: Decent Work & Economic Growth)
Menjawab tantangan ekonomi warga, Hilda membentuk ekosistem sociopreneur yang memberdayakan ibu-ibu melalui pemanfaatan pekarangan dan pelatihan literasi keuangan.
Indah Laras (Gerakan KLIK – SDG 16: Peace, Justice & Strong Institutions)
Menanggapi maraknya bullying, Indah membentuk KLIK (Klinik Konsultasi Keluarga), yang bergerak menyebarkan edukasi dari sekolah ke sekolah untuk membangun ekosistem komunikasi yang sehat.
Ayiek Budiyanto (Keluarga Joglo – SDG 4 & 10)
Dari refleksi sebagai ayah yang ingin lebih dekat dengan remaja, Ayiek membangun gerakan inklusif yang menguatkan keterlibatan orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.
Nesri Baidani (Gen Pejuang – SDG 4: Quality Education)
Untuk menguatkan kepercayaan diri Gen Z, Nesri membuat program: Journey to Shine, History of Indonesia, dan Jalan-jalan Ngelmu—menggali bakat dan memperkuat identitas generasi muda.
Bukan Sekadar Forum, Ini Adalah Gerakan
KPI Online 2025 bukan hanya rangkaian sesi, tetapi ruang bersama untuk merawat akar dan mencipta arah. Dari tradisi hingga transformasi, dari cerita personal hingga gerakan komunitas, semua berpadu membentuk simpul kekuatan perempuan Indonesia.
Data dari UN Women menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran kunci dalam memperkuat komunitas dan keluarga. Sementara data BPS 2024 mencatat, lebih dari 60% penggerak komunitas lokal di Indonesia adalah perempuan, sebuah potensi besar yang patut diapresiasi dan difasilitasi.
Mari Lanjutkan Gelombang Kebaikan Ini
Sesi 9 dan sesi penutupan Konferensi Perempuan Indonesia Online 2025 akan digelar di Sabtu, 19 Juli 2025, menghadirkan kisah-kisah baru dari para penggerak lokal hingga tokoh nasional.
Jangan lewatkan! Mari terus hadir, menyimak, dan terlibat dalam gerakan ini. Karena perubahan besar dimulai dari langkah kecil—dan langkah itu bisa dimulai dari rumah, oleh perempuan Indonesia.





Comments