Ngobrol Bareng Psikolog - Menulis untuk Mengatasi Stres

Materi Pengantar



MENULIS UNTUK MENGATASI STRESS



APA MANFAAT DARI MENULIS?

Komaidi (2007:12-13) menyebuntukan bahwa manfaat menulis adalah:

- Meningkatkan rasa ingin tahu dan melatih kepekaan dalam melihat realitas

lingkungan sekitar.

- Menambah wawasan DNA pengetahuan karena biasanya kita akan mencari referensi-referensi

lain yang menunjang

- Melatih untuk menyusun pemikiran secara sistematis dan logis

- Secara psikologis akan mengurangi tingkat ketegangan dan stres

- Mendatangkan kepuasan


Pennebaker yang dikutip oleh Hernowo dalam Komaidi (2007:14-15) menyebuntukan manfaat aktifitas menulis antara lain :

- Menjernihkan pikiran

- Membantu mengatasi trauma

- Membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru

- Membantu memecahkan masalah


BAGAIMANA MENULIS BISA DIGUNAKAN SEBAGAI SARANA PENYALURAN EMOSI?

Jika seseorang sedang sedih, marah, kesal, takut, ataupun bahagia, bisa menjadikan menulis sebagai penyaluran emosi yang positif. Sehingga kita dapat mengenali emosi yang sedang kita alami dan dapat membuat emosi kita menjadi mereda. Hal ini juga akan membantu seseorang menjadi lebih rileks dan tenang yang akhirnya dapat menjaga kestabilan emosi, sehingga dapat mencegah munculnya stres.


Michael J. Breus, Ph.D., seorang psikolog yang fokus menangani masalah gangguan tidur, mengatakan menulis jurnal "adalah cara terbaik untuk mengeluarkan isi pikiran sebelum tidur."


Aktivitas ini diharapkan dapat meringkan beban pikiran yang selama ini mengganggu, sekaligus memberi perspektif baru untuk menghadapi beban atau persoalan yang tengah dihadapi.


APA YANG DIMAKSUD DENGAN STRESS?

Stres adalah gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tekanan ini bisa berasal dari dalam diri, atau dari luar.


BAGAIMANA CIRI CIRI STRESS?

- Sulit fokus

- Sakit kepala- pikiran kosong

- Badan terasa pegal atau tidak enak

- Gejala pms meningkat

- Kerontokan rambut

- Nafsu makan menurun

- Sering mimpi aneh

- Perubahan mood yang cepat


DAFTAR PUSTAKA

-Charlie, Lie. 2005. Jadi Penulis Ngetop Itu Mudah. Bandung: Nexx Media Inc.

-Komaidi, Didik. 2007. Aku Bisa Menulis. Yogyakarta: SABDA MEDIA.



Sesi Tanya Jawab


Pertanyaan #1 Zy (Depok)

Menulis bisa membantu mengatasi trauma, bagaimana cara mengaplikasikannya?


Apakah kita menceritakan kejadian yang membuat kita trauma itu dengan menuliskannya secara intens? Bukankah malah akhirnya teringat kembali rasa traumanya.



Jawaban:

Tentunya pemulihan trauma itu memang dilakukan sesuai dengan keadaan masing masing orang. Dalam hal ini, dengan tema khusus tentang menulis, saya beranggapan bahwa seseorang tersebut paling tidak menyukai kegiatan menulis.


Dan khususnya untuk kasus traumatis, dibutuhkan pendampingan ahli, jadi klien ada arahannya dalam mengekspresikan emosinya dalam bentuk tulisan tersebut.


Tanggapan penanya

Pendampingannya bentuknya seperti apa ya?


Jawaban dari Tanggapan

Untuk kasus traumatis diperlukan pendampingan ahli, misalnya dengan konseling teratur dengan psikolog ataupun psikoterapi jika diperlukan.


Tanggapan Peserta lain

Menulis ini hanya sebagai bentuk lain mengalihkan fokus dari trauma yang dihadapi, begitukah?


Jawaban Narasumber

Jika seseorang mengalami trauma biasanya memang mengalami keluhan keluhan psikologis, salah satunya misalnya ketidakstabilan emosi. Menulis bisa dijadikan salah satu faktor untuk membantu seseorang tersebut untuk mengekspresikan emosinya, untuk menyalurkan emosinya. Yang perlu diingat adalah sebagai salah satu faktor, karena tentunya ada faktor faktor lain yang juga harus dilakukan saat seseorang menjalani psikoterapi untuk pemulihan trauma.


Pertanyaan #2 Futty mayangsari (Tanggal)

Berkaitan dengan menulis sebagai penyaluran emosi, adakah perbedaan efek menulis dengan tangan di kertas dengan menulis di gadget dalam hal penyaluran emosi?


Jawaban:

Sebenarnya sama, kembali pada orang yang bersangkutan lebih menyukai menggunakan gadget atau menulis dengan kertas dan alat tulis. Misalnya saja jika remaja remaja saat ini, kemungkinan mereka lebih menyukai menulis di gadget, karena memang mereka sudah sangat terbiasa dalam menggunakan gadget. Tapi mungkin untuk usia dewasa menengah yang tidak terlalu familiar dengan gadget lebih memilih untuk menulis di buku catatan.


Pertanyaan #3 Ade Suminarsih (Depok)

Langkah-langkah / tahapan detail apa saja yang harus dilakukan untuk bisa menulis bagi pemula?


Jawaban:

Untuk menulis sebagai sarana mengekspresikan emosi dan mengatasai stres tentu berbeda dengan menulis untuk membuat artikel atau buku misalnya. Karena menulis ini memang ditujukan sebagai penyalurkan emosi seseorang.


Jadi memang pada dasarnya emosi yang kita rasakan sebaiknya disalurkan, misalnya jika sedih kita suka menangis, jika takut atau khawatir kita berbagi cerita dengan orang lain, dan lain-lain. Nah, menulis ini juga salah satu yang bisa dimanfaatkan untuk menyelurkan emosi tersebut supaya tidak menjadi stres.


Misalnya jika kita sedang merasa sedih, tapi kita tidak bisa berbagi cerita dengan orang lain, kita bisa menuangkan sedih kita dalam bentuk tulisan. Tentunya disini seseorang tersebut bisa menuliskan semua perasaannya yang sedang ia rasakan, dan sangat tergantung pada orang tersebut apakah ia akan menuliskan secara runut dari awal sampai akhir nya merasa sedih, atau hanya fokus di rasa sedihnya itu sendiri. Jadi tidak ada batasan baku dalam menulis untuk menyalurkan emosi ini.


Pertanyaan #4 Mutik (Malang)

1. Apakah pada saat kegelisahan/kemarahan memuncak, kita segera menuliskan semua yang kita rasakan? Untuk meredamnya?

2. Tetapi bagaimana memulainya, jika kita tidak terbiasa menulis?


Jawaban:

1. Jika emosi memuncak sebaiknya kita melakukan hal-hal yang bisa meredakan emosi terlebih dahulu, misalnya dengan menarik nafas panjang, meminum segelas air, dan lain-lain. Jika sudah lebih tenang, bisa mulai menulis, tapi jika kita belum mau menulis, tetap redakan emosi dulu, misalnya berjalan santai, berwudhu, mendengarkan musik, dan lain-lain.


2. Seperti penjeasan sebelumnya jika memang pada dasarnya kita tidak suka dengan menulis, memang jangan dipaksakan, sebaiknya cari kegiatan lain yang memang kita sukai sebagai sarana pengaluran emosi.


Untuk memulai kita bisa menulis apa yang kita rasakan terlebih dahulu, tidak perlu memirkan bagaimana kata kata atau kalimat yang tepat, bisa dituangkan semua yang dirasakan dalam tulisan tersebut.


Tanggapan Moderator

Jadi cari cara untuk meredakan emosi dulu ya mba. Baru dituangkan ditulisan


Tanggapan Narasumber

Sebaiknya demikian. Karena mungkin kita juga tidak bisa langsung menulis dimana pun saat emosi memuncak. Misalnya, emosi saat di mall, yang kita juga tidak membawa peralatan atau perlengkapan menulis, jadi sebaiknya redakan emosi dl dengan hal hal yang lebih sederhana.


Pertanyaan #5 Sheila (Bali)

Berapa karakter/kata idealnya tulisan/artikel dibuat, sehingga tidak terasa membosankan/jenuh dibaca oleh orang yang kurang suka membaca? Ibarat siswa di kelas, setelah 30 menit pelajaran mereka sudah masuk di ambang kebosanan untuk memperhatikan gurunya, nah bagaimana dengan tulisan/artikel untuk pembacanya(yang kurang suka membaca)?


Jawaban:

Memang menulis itu bukan satu satunya cara untuk mengatasi stress, tapi merupakan salah satu cara. Dan cara ini akan berdampak baik memang bagi orang orang yang menyukai