The 7 Habits of Highly Effective People for Family: Membangun Kepemimpinan Ibu yang Berdampak
- Media Komunikasi IP
- Apr 13
- 4 min read
Updated: Apr 14
Pada Jumat, 10 April 2026, para pengurus pusat dan fasilitator Ibu Profesional mengikuti 2 jam sesi belajar daring yang difasilitasi Ibu Nina Yuliana, seorang Fasilitator dan Education Practice Coordinator dari Dunamis. Dengan mengambil judul “Ibu yang Berdaya, Pasti Bisa!”, agenda capacity building untuk pengurus tersebut dibuka oleh Kirani Anjasmara selaku Capacity Hub Leader Ibu Profesional. Diadakan terbatas hanya untuk 30 peserta, Sekjen Ibu Profesional - Hamidah Rina Mantiri dalam sambutannya menyampaikan agar para pengurus dan fasilitator hadir bukan untuk mengosongkan gelas. Melainkan memperluas kapasitas diri dalam belajar agar maksimal mendapatkan pembelajaran dari sesi ini untuk kepentingan member dan Ibu Profesional secara luas. Selama kegiatan berlangsung, peserta diharapkan terlibat secara aktif dan mindful, terlebih karena sesi ini tidak menggunakan rekaman, sehingga mendorong kehadiran penuh dan partisipasi optimal.

Dalam upaya meningkatkan kapasitas perempuan sebagai ibu sekaligus pemimpin dalam keluarga dan komunitas, Ibu Profesional terus menghadirkan ruang belajar yang relevan dan reflektif. Salah satunya melalui pembahasan The 7 Habits of Highly Effective People for Family, yang menjadi landasan penting dalam pengembangan diri dan kepemimpinan berbasis nilai. Sesi belajar ini merupakan kerjasama Ibu Profesional dengan PT Dunamis Intermaster (Dunamis Organization Services) yang merupakan satu-satunya mitra pemegang lisensi resmi FranklinCovey di Indonesia yang memberikan pelatihan 7 Habits secara resmi. Fasilitator dari Dunamis, Ibu Nina Yuliana, di sesi perkenalan menyampaikan misi yang berfokus pada pembentukan individu yang penuh kasih, peduli, cerdas, serta menjunjung tinggi integritas. Ia juga menekankan pentingnya meninjau dan menyesuaikan misi pribadi secara berkala agar tetap relevan dengan perjalanan hidup.
Kegiatan ini turut membahas pentingnya menjadi ibu yang diberdayakan. Pemberdayaan memungkinkan perempuan untuk berkontribusi secara positif serta menjalani kehidupan yang bermakna. Peserta berbagi perspektif mengenai urgensi pemberdayaan, mulai dari membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera, menjalani misi hidup, hingga berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia bangsa. Dalam materinya, Dunamis juga menyoroti rendahnya peringkat pembangunan manusia di Indonesia, serta menegaskan peran strategis ibu dalam membentuk masa depan bangsa. Dalam diskusi tersebut, peserta diajak untuk memprioritaskan pemberdayaan diri sebelum berkontribusi lebih luas dalam masyarakat. Pembahasan kemudian mengarah pada pentingnya pergeseran paradigma dalam menjalani peran sebagai ibu yang diberdayakan. Peserta diajak untuk menantang keyakinan yang membatasi, khususnya terkait pilihan dan peran perempuan. Melalui contoh dalam praktik manajemen mikro, digambarkan pula bagaimana perubahan perspektif dapat memengaruhi perilaku serta hasil dalam organisasi. Pergeseran paradigma ini menjadi pondasi penting dalam pertumbuhan kepemimpinan, tidak hanya sebagai ibu, tetapi juga sebagai pemimpin yang efektif.
Dalam sesi ini juga dibahas 7 habits atau tujuh kebiasaan utama dalam pengembangan diri, yang mencakup kemampuan mengambil tanggung jawab atas kehidupan, perencanaan yang matang, pelaksanaan rencana, penetapan prioritas, membangun solusi menang-menang, komunikasi efektif, serta kemampuan bersinergi dengan orang lain. Selain itu, diskusi mengenai pengembangan kematangan emosional turut menjadi perhatian. Peserta diajak untuk meninggalkan pola pikir sebagai korban dan mulai mengembangkan respons yang lebih bijak dalam menghadapi situasi menantang. Indah memberikan contoh konkret dalam mempertimbangkan berbagai respons sebelum mengambil keputusan.
Konsep “lingkaran pengaruh” juga menjadi pembahasan penting, yaitu fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, alih-alih terjebak pada hal di luar kendali. Penetapan tujuan yang jelas serta perencanaan mental sebelum tindakan fisik menjadi bagian dari langkah strategis dalam pengembangan diri. Peserta juga diajak untuk memprioritaskan “batu besar” dalam kehidupan, yakni hal-hal utama yang memiliki dampak signifikan. Hal ini perlu diseimbangkan dengan rutinitas harian agar tetap selaras dengan misi pribadi.

Dalam konteks komunikasi, peserta diingatkan untuk terus berlatih mengekspresikan pendapat secara efektif, baik dalam komunikasi daring maupun luring, dengan memperhatikan keselarasan antara bahasa, nada, dan bahasa tubuh.





Comments