#Jum'atKulwapOdop Bersama Sundari EKo Wati



Hari Jumat, 3 Agustus 2018 WAG ODOP mengadakan kulwap perdana lagi. Kali ini narasumbernya Teh Sundari Eko Wati. Mbak Khairunnisa Mawar Biduri sebagai moderator, kulwap ini seru sekali. Tidak terasa waktu sudah lewat dari pukul 22.00 wib.

PROFIL NARASUMBER

Nama: Sundari Eko Wati

Nama panggilan: Ai

Pendidikan: S1 Matematika ITB

Aktivitas: IRT, menulis di blog pribadi dan menerbitkan buku

Genre buku: Cerita anak dan dewasa (Motherhood story)

Alamat blog: https://sundariekowati.wordpress.com

IG: @sundarieko

FB: Sundari Eko Wati

Karya yang sudah terbit,

Genre Dewasa :

- 33 Kisah Me Time

- Chamomile Tea For Wonderful Moms (terbaru)

Genre Cerita Anak :

- 43 Dongeng Amazing

- Meraih Bintang Surga

- Tahukah Kamu?

- Semarak Idul Fitri Di 5 Benua 20 Negara (Mayor- Ziyad)

- Semarak Idul Adha Di 5 Benua 20 Negara (Mayor- Ziyad)

Untuk kulwapp kali ini, kita langsung ke sesi tanya-jawab dengan narasumber dari pertanyaan yg sudah masuk sebelumnya. Setelah itu baru masuk ke sesi tanggapan dan pertanyaan lanjutan jika masih ada waktu.


SESI TANYA JAWAB

#1 Pertanyaan Khairunnisa Mawar Biduri (Bandung)

Teh, boleh minta sharing kah, bagaimana proses kreatif teteh dari sejak awal kiprah tth sebagai penulis? Hal apa yang paling sering menjadi hambatan dan bagaimana mengatasinya?

Jawaban

Ok, untuk proses kreatif, biasanya gagasan/ide muncul dari hal-hal yang sudah terjadi. Concern saya saat ini adalah menulis naskah cerita anak dengan panjang 1-2 halaman saja. Ide yang saya tuangkan dalam naskah seringkali diambil dari hal-hal yang dialami anak saya, atau saya pribadi saat kecil dan hasil pengamatan saya pada beberapa anak. Digabungkan dengan faktor pendukung di sekitar, jadilah sebuah cerita.

Contohnya ketika saya membuat naskah dongeng kontemporer, saya dapat ide dari anak saya dan mainannya. Lalu cari menonton beberapa film kartun dan akhirnya munculah ide topik twist-nya. Sederhana memang untuk anak, namun dari konflik yang simpel ini justru akan ada value yang bisa diambil. Nah dari hasil pengamatan dibumbui dengan imajinasi pribadi, terbitlah satu cerita berjudul Tuk-tuk, Perahu, Dan Mobil Ajaib Jasmine.

Begitu pun untuk Aisya Berbaik Sangka Pada Kiara, itu saya ambil dari cerita nyata saat anak saya mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dengan temannya. Tapi konfliknya saya ganti dan memasukkan unsur lucu, jadinya ceritanya ringan, menghibur dan ada valuenya :)

Mengenai hambatan, karena saya baru menulis sekitar 7 buku antologi, bisa dikatakan justru saya sedang semangat-semangatnya. Hambatan mungkin deadline yang hanya 2 minggu (biasanya), dan saya perlu menyiasati waktu untuk menulis naskah. Untuk buku antologi, di awal sudah ada pembagian topik sehingga tidak terlalu sulit mencari ide. Cukup mengembangkan, mencari topik spesifik yang unik, memasukkan unsur menghibur, mendidik dan konflik dalam cerita anak.


#2 Pertanyaan Wahyu Widayati

Untuk mendapatkan tema tulisan inspirasinya darimana ya teh? Waktu-waktu yg sering teteh jdkan waktu nulis kapan aja? Mksh teh.

Jawaban

Sudah saya jawab di pertanyaan no.1 ya 😊 Inspirasi dari kejadian yang dialami anak saya dan beberapa anak-anak lain. Untuk cerita di Semarak Idul Adha, saya juga memilih negara Malaysia karena pernah kesana dan berinteraksi dengan orang Malaysia. Dengan pengalaman real yang saya alami/amati, hal ini membuat saya lebih mudah dalam menulis naskah. Lebih terbayang, lebih nyata.

Waktunya, ini yang masih tricky, hehe. Kapan saja saat sempat. Dalam batas deadline ya. Karena ide sudah terbayang biasanya saya reka dulu di kepala. Langsung tuangkan di laptop saat sempat. Biasanya malam hari saat anak saya ada yang menemani. Kirim dulu naskah lalu revisi lagi. Untuk merampungkan naskah saya targetkan 1 hari selesai. Atau bahkan semalaman.


#3 Pertanyaan Agin Puspa (Bandung)

Hai teh Sundari, ketemu lagi di sini...

Teteh kan sudah menulis cukup banyak buku antologi, adakah target yang sedang dikejar untuk nulis individu dan terbit secara indie/mayor?

Lalu, bagaimana tanggapan teteh dengan karya yg terbit secara indie dan mayor? Apakah karya yang terbit secara mayor itu selalu lebih baik daripada karya yang terbit secara indie?

Jawaban

Kenapa saya suka terlibat proyek antologi? Karena naskah yang perlu saya tulis untuk cerit anak hanya 1-5 halaman saja (cerita 2 halaman, sisanya fakta unik, sejarah dan games). Ini terbilang mudah ya, jadi saya enjoy. Dan buat saya turut menulis di buku antologi itu seperti latihan, saya juga senang membaca naskah teman lain dan mendapatkan masukkan dari penulis lain. Melalui proses membaca dan direview saya belajar lebih banyak. Nah proses latihan ini saya harap bisa lebih mengasah kemampuan saya, hopefully one day bisa bikin pic book atau buku solo. Amiin, doakan yaa. Untuk terbitnya, bisa indie atau mayor, tergantung naskahnya nanti seperti apa.

Karya indie bisa jadi lebih bagus dan lebih menguntungkan serta lebih cepat terbit. Saya ikut proyek antologi 5 indie dan 2 terbit mayor. Bedanya, saat terbit mayor, buku ceritanya full color, lebih menarik, dibuatkan iklan, ada tim marketing tersendiri dan penulis mendapatkan royalti. Misal untuk Semarak Idul Adha, terjual 5000 eksemplar tapi yang memesan ke saya tidak banyak. Hikmah, buku tetap terjual banyak meski sbg penulis saya tidak terlalu gencar promosi. Kemudian penulis juga mendapat potongan lagi untuk buku yang dibeli melalui penulis

Untuk buku cerita anak yg terbit indie, ada yg berilustrasi dan tidak. Kalau pun ada ilustrasi, tidak berwarna. Keuntungannya pure dari hasil penjualan melalui penulis. Dan hanya dicetak sesuai pesanan.

Saat ini bagi saya, buku yg terbit mayor lebih bagus hasil dan keutungannya daripada buku yang terbit indie.


#4 Pertanyaan Asti Wisnu (Jakarta)

Bagaimana menyelaraskan napas dari buku antologi teh? Temanya bisa saja sama, namun mengingat penulisnya ada banyak dengan berbagai gaya kepenulisan yang berbeda bisa jadi tulisan yang keluar pun bermacam-macam kan ya bentuknya. Kemudian adakah proses editing dilakukan dalam antologi? Sejauh mana?

Jawaban

Apa yang bikin buku antologi rich and unique justru karena gaya penyampaian cerita dari tiap penulis yang beragam. Ini membuat cerita dalam satu buku berwarna. Di awal suka ada contoh layout, briefing dari project leader, kadang ada workshop singkat dulu, lalu pemilihan topik. Setelah jadi, naskah direview bersama, setelah itu ada revisi. Di buku2 yg saya terbitkan ada editor internal dulu sebelum ke penerbit. Saya rasa ini cara menyelaraskan nafasnya ya mba.


#5 Pertanyaan Shanty Dewi Arifin (Bandung)

Pelajaran apa yang paling berkesan dari menulis sekian buku ontologi ini?

Jawaban

Tahu bagaimana menulis sebuah percapakan yang baik dan benar, karena sebelumnya saya tidak tahu. Membuka mata saya bahwa bahasa Indonesia itu luar biasa, banyak sekali kosa katanya. Cerita anak itu indah dan menarik, meski sederhana tapi ada sisipan nilai, hal seru, unsur yang menghibur sekaligus mendidik. Buat saya ini unik. Sama satu lagi, bisa kenalan sama penulis yang menurut saya keren, punya kenalan baru yang tinggal di berbagai negara dan membuka jalan ketemu penerbit mayor.


#6 Pertanyaan Dwi Nur Tirta (Bekasi)

-Bagaimana sumber buku antologi dibuat? Misal lomba atau ikut kelas.

-Dari semua antologi, manakah yang paling berkesan?

Jawaban

Saya mencoba ikut lomba, but failed. Jadi saya merasa saya bukan tipe pengikut lomba. Akhirnya saya ikut kelas, yang berbayar dan tidak berbayar. Jadi naskah tidak melalui proses seleksi, namun bimbingan. Mentornya baik juga. Meski untuk naskah tertentu, terutama yang akan terbit mayor harus diseleksi di awal. Baru bisa dimasukkan ke proyek. Saya gabung di Wonderland Creative yang sudah seperti keluarga/tim buat saya.

Yang paling berkesan adalah Semarak Idul Fitri dan Semarak Idul Adha Di 5 Benua 20 Negara. Karena terbit mayor, ini impian saya. Full color, ilustrasinya menarik. Sebetulnya saya lebih suka buku yang berwarna. Dan ceritanya spesial, terutama di Semarak Idul Adha.


#7 Pertanyaan Dea Adhicita (Depok)

Teh, apa teteh pernah merasa malas? Atau terkena writer's block? Ditolak penerbit? Bagaimana cara teteh mengatasinya

Jawaban

Untuk menulis cerita anak belum malas dan kena writes block. Lagi-lagi karena saya hanya memilih/menulis tema yang saya bisa, saya nyaman dan sudah ada gambaran. Ditolak penerbit belum pernah. Biasanya tim leader akan usulkan layout dulu ke penerbit. Kalau penerbit setuju baru kami bikin naskahnya 😊


#8 Miranti Banyuning Bumi (Serang)

-Bagaimana cara memilih penerbit indie teh? Ada rekomendasi dari teh Ai pribadikah penerbit indie yg oke?

-Tolong diceritain proses promosi bukunya donk teh, secara pribadi masing2 penulis atau minta tolong penerbit sekalian?hehe

Jawaban

Penerbit indie saya baru coba 2. Stilleto dan Wonderland Publisher. Stilleto bagus menurut saya. Untuk indie promosi lebih ke pribadi. Untuk mayor oleh penulis dan tim marketing penerbit.


#9 Pertanyaan Nining Purwanti (Semarang)

Teh, bagaimana tips dan triknya mengenalkan buku antologi kita, supaya tetap laku dan banyak dilirik, apalagi yang hasil NUBAR tanpa embel-embel penerbit atau komunitas terkenal.

Jawaban

People have to know who are u and ur quality. Ikut komunitas agar teman2 di komunitas banyak yang pesan. Saya pribadi kejarannya bukan agar buku laku, tapi masih ke bikin karya dan latihan menulis, mba.


#10 Pertanyaan Julia (Probolinggo)

1. Selama ini bagaimana penjualan buku antologinya Teh?

2. Trus Teteh promosinya gimana?

3. Kalau antologi ini kan tulisan campur-campur ya Teh, bukan tulisan kita sepenuhnya, gimana cara Teteh meyakinkan orang lain tentang isi buku itu?

4. Saya baru sekali ikutan nulis buku antologi lewat penerbitan indie. Penerbitannya saklek banget. Mau ganti jasa pengiriman nggak bisa, hitungan berat bukunya juga nggak jelas, sementara kita penulis baru yang baru bisa menulis buku mau agar biaya dan ongkir yang diberikan kepada pembaca/ pembeli seminim mungkin agar mereka tak merasa bukunya kemahalan (jadi curhat 🙈🙈) gimana Teteh mengatasi kalau nemu penerbit yang agak nakal atau ribet ke penulis? Terima kasih Teh, maaf kepanjangan .

Jawaban

Alhamdulillah saya gabungnya ke Wonderland Publisher mba, friendly. Masih berkembang sih penerbitnya. Jadi hampir semua buku saya terbit disini. Pun proyek antologi mayor saya juga berasal dari grup ini mentornya, dan beliau kenal cukup banyak penerbit mayor.

Mungkin next time kalau mau ikut proyek antologi coba kenali dan ngobrol banyak dulu sama tim ya mba. Agar jelas semuanya dan sama-sama enak.


SESI TANGGAPAN ATAU PERTANYAAN LANJUTAN

Pertanyaan Risna

Tadi disebutkan menulis cerita anak 2 halaman, ini kira-kira berapa kata ya?