Menjadi Ibu yang Merdeka dan Memerdekakan Anak

Agustus kali ini berbeda, tetapi spirit yang dibawa oleh Ibu Septi Wulandani pada peringatan kemerdekaan Indonesia tidak kalah menggelegar dengan peringatan kemerdekaan Indonesia pada tahun-tahun yang telah lalu.




Seolah Ibu Septi mengajak kepada Ibu-ibu Indonesia untuk tidak lengah membersamai anak dengan merdeka meski di tengah-tengah pandemi.


"Apakah anak-anak kita sudah menjadi anak-anak yang merdeka?" pertanyaan Ibu Septi diam-diam menggelitik nurani sebagai seorang Ibu.


Sudahkah anak-anakku merdeka?


Kemampuan yang Perlu Dikuasai Anak-anak yang Merdeka


Fitrah anak adalah menjadi pribadi yang merdeka. Namun, seringkali tanpa disadari, kita sebagai orang tua mengekang kemerdekaan anak dan membuatnya terjajah dan tergantung kepada orang tuanya.




Tidak bisa dipungkiri, jalan untuk memerdekakan anak terlihat lebih 'kejam' karena dituntut untuk tega membiarkan anak berproses, mandiri dan menghadapi resikonya sendiri.


Ibu Septi menjabarkan uraian Ki Hadjar Dewantoro, seperti apakah anak yang merdeka.


Anak yang Merdeka adalah Anak Berdiri Sendiri




Anak yang berdiri sendiri adalah anak yang menjadi subjek, menentukan sendiri untuk apa ia belajar dan mempelajari sesuatu. Anak yang merdeka mempunyai kewenangan dan inisiatif dalam belajar.


Anak yang Merdeka adalah Anak yang Tidak Bergantung pada Orang Lain


Secara alamiah kegiatan sehari-hari anak mulai bangun tidur sampai tidur lagi adalah aktivitas belajar. Anak-anak mencoba mencari hawaban dari rasa ingin tahu yang besar tanpa peduli ada orang dewasa di sekelilingnya atau tidak.






Keinginan untuk belajar dan bergerak atas kemauannya sendiri sudah muncul sejak anak masih bayi. Tanpa disadari, diam-diam Ibu 'mengekang' rasa ingin tahu dan ingin mencoba anak karena dianggap belum waktunya dan berbahaya.


Padahal, sebagai Ibu seharusnya kita lebih kreatif untuk tetap mengakomodasi keinginan belajar anak dengan cara yang tetap aman.


Anak yang Merdeka adalah Anak yang Mampu Mengatur Diri Sendiri


"Anak mampu mengelola diri akan kebutuhan belajarnya. Memilih cara dan media belajar yang sesuai dengan gaya belajarnya serta kondisi lingkubgan sekitar dimana ia dibesarkan." urai Ibu Septi.




Ibu-ibu anggota Ibu Profesional mendapatkan kesempatan untuk belajar secara merdeka. Mereka dapat memilih kelas belajar sesuai kebutuhan dan minatnya. Terdapat pilihan komponen belajar yaitu Komunitas, Institut dan Sejuta Cinta. Pada salah satu kelas Institut yaitu Bunda Sayang terdapat panduan bagi para Ibu. Para Ibu di Bunda Sayang patut bangga dan bersyukur karena kita sudah diberi bekal untuk mengamati dan mempelajari seperti apakah gaya belajar anak dan media apakah yang paling mereka sukai sehingga kita bisa memfasilitasi kemerdekaan anak dalam memilih gaya belajar dan media belajar yang digunakan. Selain itu di Ibu Profesional kita dikenalkan dengan Pandu 45, sebagai panduan untuk memahami ananda dalam perkembangannya.




Proses belajar Ibu Profesional adalah proses yang merdeka. Bunda bisa mengamati, meniru dan memodifikasi proses belajar di Institut Ibu Profesional untuk anak-anak dan menyesuaikannya dengan kondisi keluarga Bunda. Institut hanya memberi kail, tidak memberikan keseluruhan materi. Bunda pun dibebaskan memilih gaya belajar seperti apakah yang Bunda gunakan selama belajar di Institut.


Menjadi Ibu yang Merdeka dan Memerdekakan Anak


Menjadi Ibu adalah perjalanan yang cukup panjang. Kita belajar sepanjang detik dari anak-anak. Apalagi karakter anak sangat unik, bisa saja kita terinspirasi dari bagaimana orang lain mendidik anak, tetapi keputusan untuk membersamai anak seperti apa balik lagi kepada kita. Hampir mustahil untuk mencontoh 100% gaya mendidik orang lain yang kita idolakan kepada anak-anak kita.


Menjadi Ibu yang merdeka, yang memutuskan sendiri seperti apakah anak-anak akan dididik, mengatur sendiri apa-apa keputusan kita tentang anak-anak tanpa tekanan dari orang lain, dengan tetap mempertimbangkan untuk memerdekakan anak.


Memerdekakan belajar anak seperti yang diuraikan oleh Ibu Septi Wulandani sebenarnya tidak hanya memerdekakan anak, tetapi juga memerdekakan Ibu karena Ibu tidak lagi menghabiskan tenaganya untuk mengatur keseluruhan tentang anak, Ibu tidak lagi melayani semua keperluan anak.


Lalu, bagaimanakah cara yang perlu ditempuh untuk memberikan hak merdeka belajar kepada anak-anak dalam keseharian? Ibu Septi menjabarkannya dengan sangat cantik dan realistis.


Membangun Obrolan Hangat Ayah-Bunda untuk Memancing Rasa Ingin Tahu Anak-anak


Anak belajar dari sekelilingnya. Anak adalah peniru ulung, children see, children do. Jalan termudah untuk membangun budaya diskusi dalam rumah adalah memulai dengan diskusi sesama orang dewasa di dalam rumah. Obrolan Ayah-Bunda di rumah yang hangat akan diamati oleh anak dan dicontoh ketika waktunya telah tiba.


Ayah Bunda jangan sungkan-sungkan untuk mendiskusikan hal-hal terkait kehidupan dan keilmuwan ketika ada anak-anak. Meski anak-anak balita sedang bermain di sekitar kita, sebenarnya anak-anak mengingat dan merekam dengan baik bagaimana cara berinteraksi Ayah dan Bundanya. Mulai untuk membuka obrolan antara Ayah dan Bunda saat ada anak-anak.


Sesekali beri anak kesempatan untuk bertanya. "Selanjutnya apabila rasa ingin tahu anak muncul sewaktu-waktu, siapkan satu kertas flipchart dan spidol di salah satu dinding rumah kita. Sehingga kita bisa mencatatnya kapanpun" urai Ibu Septi.


Sediakan Beragam Sumber Informasi untuk Anak-anak


Memerdekakan anak adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mencari sendiri atas ribuan rasa ingin tahu mereka. Beri anak contoh kemana anak harus mencari jawaban dari setiap pertanyaannya, apakah dari buku, video, mesin pencari ataukah harus bertanya langsung kepada orang yang ahli di bidangnya.


Biarkan anak memilih media apa yang mereka gunakan untuk mencari tahu jawaban atas rasa ingin tahunya. Ibu Septi mewanti-wanti kita sebagai orang tua untuk tidak menyuapi anak dengan jawaban versi orang tua.


"Tugas orang tua adalah memicu anak untuk terus mencari jawaban. Bukan memberi jawaban versi orang tua sebagai jawaban paling benar. Ingat, mendidik itu bukan membuat anak bisa menjawab ribuan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Namun membuat anak bertanya satu pertanyaan yang membawanya menemukan seribu pengetahuan."


Menjadi Ibu yang merdeka dan memerdekakan anak tentu bukan hal yang mudah, tetapi kita tidak boleh menyerah untuk terus belajar dan berbenah. Akhir kata, ijinkan emak K untuk menyitir penutup dari Ibu Septi Peni Wulandani yang patut kita renungkan dan wujudkan bersama.


Maka bila diizinkan untuk menambahkan hak anak maka saya mengusulkan Kemerdekaan belajar itu adalah hak setiap anak yang harus diperjuangkan. Dan itu bisa kita mulai dari dalam rumah kita. Karena semua ibu adalah guru utama dan pertama bagi anak-anaknya. Merdeka! -Septi Peni Wulandani-
147 views
Contact us

Email : info@ibuprofesional.com

​​

  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • instagram
  • YouTube Social  Icon
  • Google+ Social Icon

© 2018 by Ibu Profesional. www.ibuprofesional.com All right reserved