Produktif Menulis Produktif Berkarya Bersama Mbak Honey Dee

Updated: Sep 18, 2018

Narasumber kece yang hadir di WAG ODOP kali ini adalah seorang penulis buku best seller Rooftop Buddies dan Hijrah Sakinah. Adalah Mbak Hanny Dewanti, beliau akrab dipanggil Mak Oney, dengan nama pena Honey Dee. Beliau juga seorang mentor handal di dunia tulis menulis genre fiksi. Kuliah Whatsapp kali ini mengusung tema ‘Produktif Menulis, Produktif Berkarya” sesuai dengan narasumber kita, Mak Oney yang sangat produktif berkarya. Tahun 2016 sampai pertengahan 2017 Mak Oney membuat lebih dari 20 buku antologi, dan ratusan artikel lainnya. Wow inspired woman!


Kulwap berjalan dengan penuh kehangatan, dihujani jawaban-jawaban Mak Oney yang sangat memukau. Ada sepenggal kalimat Mbak Hanny yang paling berkesan di hati saya, “kunci dari sukses menulis adalah selalu berserah pada Allah, dengan begitu kita tak akan pernah kehabisan ide dari Allah,” MasyaAllah. Nah, langsung saja yuk kita intip bersama hasil diskusi keren #JumatKulwapOdop 14 September 2018 yang dimoderatori oleh Mbak Listkanisa R. Mega Odopers asal Semarang. Berikut Tanya jawab kulwap:


#1 Pertanyaan Khairunnisa Mawar Biduri, Bandung

Mba Hanny, adakah sebuah trik latihan menulis + membaca dari Mba, yang sederhana untuk sehari-hari di rumah (sambil menjalani tugas IRT dan mengasuh balita). Karena jujur, saya kesulitan menyisipkan waktu diantara padatnya jadwal IRT khususnya untuk membaca buku Mba. Terimakasih Mba Hanny.

Jawab:

Saya biasanya membaca di HP sambil ngeloni anak, Mbak. Kalau saya nggak bisa buka buku, saya pakai HP. Ada aplikasi namanya Ipusnas dan Ijak. Di aplikasi ini kita bisa pinjam buku selama beberapa hari. Kita bisa baca di HP dan nyaman sekali kalau menurut saya.

Sebenarnya, kalau kita memang mencintai membaca, kita akan mencari alasan untuk melakukannya. Misalkan dengan memotong waktu untuk online kita demi membaca. Saya sendiri sekalipun aktif menulis di facebook, Ig, dan Wattpad tetap membatasi waktu online. Saya hanya online pada jam-jam tertentu dan hanya untuk menjawab komentar, mengisi materi, mengunggah status facebook, atau riset dengan membaca status yang sedang musimnya dibahas.

Saya tidak ikut komen atau ikut debat sekalipun postingan tersebut tidak sesuai dengan saya karena nggak ada gunanya. Lebih baik saya jelaskan dengan baik di status saya sendiri biar elegan.

Cara lain adalah membaca sebelum tidur, saat ngeloni anak. Bisa juga waktumenunggu anak di sekolah, nungguin masakan, dan banyak jeda waktu lainnya. Kalau saya sih ya mbak, saya bakal kacau dan sakau kalau nggak baca karena bagi penulsi seperti saya, membaca itu seperti napas. Kalau nggak napas, nggak ada bahan untuk hidup. Kalau nggak membaca, saya nggak akan bisa menulis.

#2 Pertanyaan Nining Purwanti, Kabupaten Semarang

Assalamualaikum. Mak Oney.

a. Bagaimana caranya supaya tulisan kita bisa ngalir kaya Mak Oney? Aku sering mengikuti status-status Mak di FB. Pengen bisa nulis sesantai dan seenak itu, tapi setiap kali mengaplikasikan kok kesulitan, jadinya balik ke formal, seperti bahasa tulisan non fiksi.

Jawab:

Saya menganggap sedang berbicara dengan pembaca, Mbak. Saat menulis, saya membayangkan sedang berhadapan dengan sahabat dan menulis sesuatu untuknya. Saya menulis dengan terbuka dan jujur. Saya tidak menutupi apapun. Makanya kalau baca tulisan saya mungkin orang akan berpikir, “Ya, ampun blak-blakan banget.”

Ini karena saya ingin menjadi teman dan sahabat pembaca, bukan hanya orang yang menggurui. Mungkin ini yang menjadikan tulisan saya jadi mengalir.

b. Dulu Mak Oney buka kelas menulis ya, masih berjalankah? Kalau masih, apa dan bagaimana syarat gabungnya?

Jawab:

Training menulis saya skip dulu, Mbak.

Saya benar-benar kesulitan membagi waktu untuk istirahat saat ini. Saya punya hutang sampai 10 naskah pada penerbit yang berbeda. Saya khawatir ngedrop, jadi sementara saya tutup dulu kelasnya.

Doakan ya semoga bulan depan saya bisa buka kelas lagi kalau kondisi kesehatan saya memungkinkan.

#3 Pertanyaan Artit Meitalia, Malang

Assalamualaikum, hai mba hanny

a. Bisa cerita sedikit tentang awal mula berdirinya cloverline creative?

Jawab:

Dulunya, saya dan teman saya itu ingin belajar nulis bareng, Mbak. Ada penulis senior yang memberi nasihat, “Jangan sendirian. Nanti kalau kamu jatuh nggak ada yang nolongin.”

Akhirnya Allaah mempertemukan saya dengan sahabat yang luar biasa. Beliau yang memberi support pada saya hingga saat ini. Alhamdulillah… Ini rezeki yang luar biasa untuk saya.

Kami ingin sekali membuat sebuah wadah yang merangkul semua perempuan yang benar-benar niat menulis. Jadi, di dalam Cloverline Creative itu bukan hanya ada komunitas dan training, tetapi juga ada penerbitan buku dengan kualitas yang bagus karena kami punya editor sendiri dan lay outer yang mumpuni. Makanya harga di Cloverline cukup mahal. Selain itu kami juga terus membina alunmi training di Cloverline.

Alumninya kami buatkan grup Cloverline Authors yang terus saya bimbing untuk menerbitkan buku hingga saat ini. Alhamdulillah sudah pada terbit mayor tahun ini bukunya. Mak Kinanti WP, salah satu member Cloverline Authors juga, loh.

b.Cloverline creative mengusung one stop service dibidang literasi, bisa disebutkan apa saja produknya?

Jawab:

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, di Cloverline Creative membina penulis pemula mulai dari belajar menulis, pengembangan kepribadian sebagai penulis, Memberikan informasi event-event kepenulisan, penerbitan buku, hingga menjadi sahabat yang saling membantu dalam jatuh-bangun karir kepenulisan. Soalnya menjadi penulis itu bukan hal yang mudah, Mbak. Ada banyaaak sekali godaannya, termasuk orang yang nyinyirin karya kita. Kalau sendirian, mungkin kita nggak akan kuat.

c. Apa yang paling menarik dan menjadi tantangan sepanjang perjalanan cloverline creative sampai saat ini?

Jawab:

Dulunya sih saya dikucilkan sama senior-senior. Hahah…

Tadinya akrab, begitu melihat Cloverline Creative berkembang pesat pada awal pembentukannya, jadi musuhin karena dianggap saingan. Padahal saya tidak mendapatkan apa-apa. Awalnya semua gratis sampai kemudian saya lihat member pada menyepelekan. Karena gratis akhirnya malas-malasan. Jadinya saya berlakukan training berbayar. Hehe…

Bukannya tidak ingin uang, tapi saya adalah orang yang menginginkan hal lain yang jauh lebih berharga daripada uang. Uang itu asal cukup untuk makan saja sudah alhamdulillah, kok. Hehehe…

Saya sebenarnya tidak menganggap ini semua sebagai tantangan. Menurut saya justru ini adalah sumbu yang meledakkan semangat saya. Dengan banyaknya tekanan, saya jadi lebih semangat untuk menunjukkan pada mereka semua bahwa saya bisa. Saya mampu dan saya akan terus bertahan. Yang menentukan jatuh tidaknya saya adalah Allaah, kan?

Terimakasih. Saya tertarik nulis bareng hijrah sakinahnya

Ayo, Mbaaakkk… Kita Nulis sekuel Hijrah Sakinah bareng.

#4 Pertanyaan Listkanisa R. Mega, Semarang

Bismillahi, mbaaak oney ma syaa Allah sangat mengispirasi aku, sampai aku ikutan langsung pesen buku mbak oney yang baru. Terima kasih banyak ya mbak.

Mbak aku tertarik dengan cloverline creative, dan kelas menulis mbak oney. Bagaimana cara bergabung disana mbak?

Jawab:

Untuk sementara karena kesibukan saya masih banyak sekali dan kesehatan saya sedang buruk, kelas menulis saya tiadakan dulu.

InshaaAllaah jika Allaah sudah mengizinkan bulan-bulan depan akan saya mulai lagi kelasnya.

#5 Pertanyaan Dian Kusumawardani, Surabaya

a. Bagaiman membagi waktu dan mood antara menulis fiksi dan no fiksi.

Jawab:

Kalau mood nggak bisa dibagi ya,mbak. Kalau kita sudah pada level mahir, inshaaAllaah bisa langsung lincah kok nulis fiksi atau nonfiksi.

Kalau membagi waktu biasanya saya selesaikan 1 project dulu, baru kerjain yang lain. Fokus ini bikin tulisan kita jadi lebih berkelas.

b. Mana yg mbak lebih sukai? Mana yg lebih menantang? Antara fiksi dan non fiksi?

Jawab:

Fiksi. Hahahaa...

Saat menulis fiksi saya bisa sampai menangis sesenggukan. Saat menulis Rooftop Buddies suami saya tuh sampai emosi soalnya saya tiap nulis pasti nangis. Karena saya merasa ada di dalam cerita. Selain itu, dalam menulis fiksi, saya bisa memasukkan banyak hal untuk pembaca.

Di dalam Rooftop Buddies saya bukan hanya memasukkan tentang depresi dan kanker, tapi saya juga memasukkan tentang rokok bagi kesehatan, pengaruh miras bagi emosi, seks bebas pada remaja, bullying, domestic drama, hingga kemanusiaan. Ini yang membuat novel ini jadi berwarna dan best seller pada minggu ketiga setelah terbit. Saat menulis Hijrah Sakinah saya merasa seperti sedang membelai sahabat. Rasanya nyaman dan tenang. Memang efek calming ini manis banget. Cuman, saya ini perempuan dengan jiwa petualangan yang tinggi. Jadi, lebih suka yang bikin emosi naik turun.

#6 Pertanyaan Julia, Probolinggo

Assalamualaikum Mba' Hanny, mau tanya,

a. Bila menulis sebuah buku fiksi, seberapa penting kita harus membaca buku lain sebagai acuan tulisan kita?

Jawab:

Sangat penting sekali, Mbak.

b. Misalnya saya mau menulis tentang parenting, tentang bermain bersama anak, haruskah saya membaca semua buku tentang tema bermain bersama anak? Kalau saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya lakukan atau rasakan, kira-kira bagaimana saya memporsikan tulisan yang berdasarkan pengalaman dan berdasarkan di buku.

Jawab:

Saat menulis 1 buku, kita harus membaca paling tidak 10 buku gunanya untuk membuat tulisan kita lebih hidup dan berwarna.

Percaya deh, tulisan yang dibuat oleh penulis yang suka membaca dan yang tidak suka membaca itu sangat berbeda.

Biasanya, buku yang dihasilkan dari pengalaman saja itu monoton dan bahasanya itu-itu saja. Tidak menarik sama sekali.

c. Misalnya saya mau mengambil istilah seseorang tentang arti bermain seperti di nomor 2, lalu saya memakai istilah penulis A dalam bukunya yang berjudul B, bolehkah saya hanya mengutip sedikit? Atau harus membaca semua isi bukunya baru saya boleh mengutip tulisannya?

Jawab:

Boleh mengutip saja tapi tetap harus menuliskan judul buku dan pengarangnya ya.

d. Maaf kalau pertanyaannya dasar sekali, masih newbie. Untuk menuliskan sebuah daftar pustaka sebuah buku di tulisan kita, apakah kita harus membaca semuanya atau boleh hanya mengutip?

Jawab:

Mengutip juga harus masuk ke daftar pustaka, mbak. Aturan tentang tata cara mengutip diatur sama PUEBI. Bisa browsing mengenai aturan ini ya, mbak.

#7 Pertanyaan Agina Puspanurani, Bandung

Wuah, tahu Kak Hanny ini pas gabung di KANOI dan materi nulis dari kak Hanny kece banget!

a. Kak, tips dong biar lancar jaya nulis fiksi versi kakak gimana? Saya lihat kak Hanny produktif banget di wattpad juga. Keren!

Jawab:

Perbanyak membaca, kak. Kalau ilmu dan pengetahuan kita banyak, inshaaAllaah nulis apa saja di mana saja mesti lancar.

b. Motivasi kak Hanny dalam menulis apa sih? Terutama yang bikin kakak semangat nulis dan menyelesaikan tulisan (walaupun misalkan tulisan kita belum tentu disukai/dibaca banyak orang).

Jawab:

Saya ingin membagi cinta, motivasi, dan inspirasi bagi orang lain. Saya ingin meninggalkan separuh jiwa saya pada dunia agar diri saya tetap abadi sekalipun tubuh saya mati.

#8 Pertanyaan Lintang Gumilang, Malang

Assalamualaikum mba Oney, mau tanya nih,

a. Pernahkah ngalamin writer's block, ada ngga tips khusus dalam hal ini? Kok kayanya produktif banget nulisnya lancar jaya tanpa kendala. Hehe.

Jawab:

Sebenarnya writer's block itu hanya myth, mbak. Yang ada iTu mental block. Writer's block itu terjadi kalau penulisnya tidak memiliki cukup bahan saat menulis. Jadinya ya macet. Kalau bangun rumah terus kurang bahan, macet kan?

Begitu juga dengan menulis. Makanya, saat menulis satu buku, paling tidak kita membaca sepuluh buku.

Saat menulis Rooftop Buddies, saya membaca lima novel hanya untuk membuat endingnya. Bukan mencontek, tapi saya ingin belajar bagaimana novel-novel tersebut membuat penyelesaian atas masalah yang sudah digulirkan.

Saat membuat hijrah sakinah, saya membaca buanyak sekali artikel, buku kontemplasi, buku pernikahan (sampai saya dikirimi 3 buku tebal sama fan yang tidak mau memberi tahukan namanya), dan buku pengembangan diri. Gunanya agar saya melebarkan ruang di dalam pikiran saya untuk kemungkinan-kemungkinan penyelesaian masalah dalam rumah tangga.