Resume #JumatKulwapODOP bersama Monika Puri Oktora



Pada Jumat, 9 Februari 2018 kami di grup WA ODOP dapat kesempatan nge-poin seorang teman yang bukunya masuk di jajaran bestseller Gramedia. Monika Puri Oktora dengan bukunya Groningen Mom's Journal (Elex Media, 2017), berbagi pengalamannya menembus penerbit major. Selama hampir 2 jam, dengan sabarnya Monika menjawab 20 pertanyaan dengan 'anak-anaknya' dari teman-teman di grup yang diikuti oleh 77 orang ini.


Terima kasih kepada Ketua Kelas #JumatKulwapODOP Fajar Widyastuti dari Jakarta yang telah menjadi Moderator dan Nurul Fitriyah dari Jepara yang sudah menresume kulwap seru ini.


Yang nggak bisa ikut hadir, jangan sedih ya. Berikut kami bagikan resumenya.


Profil Monika Puri Oktora Monika Oktora, lahir di Padang, 17 Oktober 1987. Masa kecilnya dihabiskan di Bandung. Masa pendidikan sejak TK sampai kuliah ia jalani di kota kembang tersebut.


Ia menyelesaikan studi sarjananya di Institut Teknologi Bandung, jurusan Farmasi Klinik dan Komunitas, yang dilanjutkan dengan Pendidikan Profesi Apoteker di tempat yang sama. Selepas lulus kuliah, Monik sempat bekerja di Jakarta sebelum kemudian akhirnya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah melahirkan anak pertamanya. Di tahun 2014, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi master di University of Groningen, Belanda, jurusan Medical Pharmaceutical Sciences. Ia merantau ke negeri kincir angin bersama suami dan puterinya. Saat ini Monik dan keluarga masih berdomisili di Groningen, untuk kembali melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Sejak kecil, Monik sudah senang menulis dan membaca semua jenis buku. Ia sering mengisi artikel untuk majalah sekolah sampai buletin kampus. Beberapa buku antologinya yang sudah pernah terbit antara lain:

  • Dear Mama #4 (NulisBuku, 2013)

  • Inspiring Teacher (Biovision Writing Competition-NulisBuku 2013),

  • Kampung Bocah, Kumpulan Kisah dan Hikmah (2012),

  • 30 Days on Fire (Raditeens, 2017),

  • dan Garis Waktu (Inspirator Academy 2017), dan

  • buku solonya terbit Januari 2018 di Elexmedia Komputindo berjudul Groningen Mom's Journal.

Hobinya menulis dituangkan dalam blog pribadinya

http://monikaoktora.com

Monik dapat dihubungi melalui email: oktora.monika@gmail.com

atau media sosialnya di Instagram @monikaoktora.


Tanya-jawab


#1 Pertanyaan Mittya Ziqroh, Pasaman-Sumatra Barat

a. Bagaimana proses yang mbak Monika lalui sehingga bisa menembus penerbit Elex media? b. Berapa lama proses penyusunan naskah sampai terbit?


Jawaban:
a. Langkah-langkahnya seperti ini:
  • Memiliki naskah yang lengkap

  • Melengkapi data-data/dokumen yang diminta penerbit (tiap penerbit biasanya beda-beda). Secara umum biasanya saat mengirimkan naskah, juga dilengkapi dengan data ini: Sinopsis, jumlah halaman naskah, jumlah gambar, kelebihan naskah, buku pembanding di pasaran, daftar isi, profil penulis.

  • Mengirimkan naskah ke beberapa penerbit.

  • Menerima penolakan dari beberapa penerbit, akhirnya berjodoh dengan Elexmedia

b. Proses penyusunan naskah sampai terbit

  • Naskah mentah ditulis dalam waktu 30 hari saat mengikuti program mentoring menulis online. Tetapi sebenarnya tidak semuanya saya tulis setiap hari pada saat itu. Saya sudah memiliki beberapa tabungan di blog, beberapa di antara saya tulis saat mengikuti ODOP yang awal banget di pertengahan tahun 2016 kalau tidak salah. Yang saya lakukan adalah memiliah-milah tulisan saya di blog yang masuk ke dalam premis dan outline naskah saya.

  • Melakukan proses self-editing pada naskah.

  • Melengkapi data-data kelengkapan naskah (yang saya sebutkan di atas)

  • Setelah naskah saya di-iyakan oleh editor Elexmedia, editor meminta untuk menambah konten dan menghilangkan konten tertentu, jika saya setuju maka akan dilanjutkan prosesnya.

  • Proses proof reading dengan editor sebanyak 3x

  • Melengkapi tulisan pelengkap di buku, seperti kata pengantar, profil penulis, dll.

  • Pemilihan cover

  • Proses cetak

  • Tanda tangan kontrak dengan penerbit

#2 Pertanyaan Intan Rosmadewi, Ciburial - Bandung

a. Berapa lamakah proses mengedit naskah hingga proses cetak?

b. Adakah rencana membuat buku berikutnya?


Jawaban:
a. Sejak di-oke-kan oleh editor sampai terbit kira-kira waktunya 6 bulan. Melalui proses penambahan konten dan 3x proof reading dan editing, serta pemilihan cover

b. Ada mbak, Insya Allah, hehe.. Saya lagi menyelesaikan naskah fiksi sebenarnya. Kumpulan cerpen yang terinspirasi dari kehidupan orang-orang disini, semoga saja bisa cepat kelar, doakan, hehe. Kalau kumcer ini sudah selesai, saya baru pede untuk menggarap novel. Selain itu saya tetap mencoba menuliskan jurnal saya selama di sini, siapa tahu bisa selesai tahun ini jadi Groningen Mom’s Journal part 2☺aamiin

#3 Pertanyaan Liza, Ketapang

a. Modal apa saja yang perlu dimiliki agar buku kita tembus ke penerbit mayor?

b. Apabila memerlukan modal materi, kira-kira kisaran berapa dana yang perlu kita siapkan?c. Butuh latihan menulis berapa lama sampai bisa tembus penerbit mayor dengan kategori best seller?

d. Bagaimana awal mula teteh berlatih menulis?

e. Sekarang saya sedang semangat sekali berkarya. Bisa menulis dan bisa membuat buku adalah mimpi saya. Bagaimana tips, trik, dan pesan agar saya bisa tetap semangat menjaga mimpi ini?


Jawaban:

Salam kenal Teh Liza

a. Tentunya ya naskah yang lengkap. Dan mental baja tidak putus asa ketika ditolak penerbit, hehe


b. Untuk penerbit mayor tidak perlu menyiapkan uang sama sekali. Biaya cetak ditanggung penerbit. Kita juga akan diberi beberapa buah buku sebagai bukti terbit (gratis). Tetapi penerbit akan memberikan harga diskon jika kita ingin membeli buku tersebut langung dari penerbit. Masa iya kita tidak memanfaatkan kesempatan itu? Jadi ya modalnya paling hanya untuk membeli buku sendiri, itu tidak rugi juga. Tergantung mau beli berapa eksemplar.


c. Wah saya tidak ingat, haha.. saya cuma senang nulis saja dari dulu. Tapi memang terasa sih, semakin sering menulis, kemampuan menulis jadi lebih terasah, mulai dari segi penyusunan kalimat, pemilihan kata, pembentukan alur, narasi, dll.


d. Jadi sebenarnya saya bukan latihan menulis, tetapi memang suka menulis. Kalau latihan kan kesannya ada jadwal tertentunya ya. Sejak SD saya memang suka menulis, SMP, SMA, dan kuliah selalu ikut eksta kulikuler atau unit yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis. Jadi tanpa sadar itu terbangun saja. Dari awalnya menulis diary, terus mrnulis blog, dan menjaga konsistensi menulisnya itu. ODOP salah satu cara untuk melatih konsistensi menulis


e. Temukan MOTIVASI TERBESAR atau STRONG WHY-nya kenapa Teh Liza senang menulis dan berkarya, selama tahu alasannya apa, Insya Allah ketika sedang jenuh, maka akan tetap bisa bangkit. Tipsnya: menulis, menulis, dan menulis, hehe.. Oiya dan membaca, membaca, membaca.


#4 Pertanyaan Sundari, Bandung

Apa yang membuat Mbak Monik optimis buku ini akan disukai pembaca? Saya ada keinginan menerbitkan buku namun ragu apakah akan ada yang membeli atau tidak.


Jawaban:

Jujur dulu saat mengirimkan ke penerbit saya juga tidak berfikir apakah buku saya nanti akan disukai pembaca atau tidak, hehe. Jangankan disukai pembaca, saya juga tidak yakin ada penerbit yang mau atau tidak.

Tapi kembali lagi pada niat saya membukukan naskah saya: saya ingin punya suatu cerita yang bisa dikenang untuk dibaca anak-cucu saya kelak, atau bahkan saya baca lagi ketika saya sudah tua (mikirnya jauh amat yak). Jadi saat itu jika tidak ada penerbit yang mau, itupun tidak masalah, saya akan tetap menerbitkan buku saya di penerbit indie. Buku saya ini sebelum berjodoh di Elex pernah saya cetak sendiri. Untuk siapa? Ya untuk saya saja dan keluarga, toh Cuma nyetak 20 pcs. Ketika tidak ada pembaca yang tidak suka pun tidak masalah, saya menerbitkan buku bukan untuk yang mereka kok. Suka/tidak suka itu masalah selera saja. Nothing to lose.


#5 Pertanyaan Ressa Lisdia, Majalaya - Bandung

Apa saja kesulitan terbesar yang di hadapi sebagai penulis? Dan bagaimana cara mengatasinya?


Jawaban:

Kesulitan terbesar.. wah ini nih

a. Melawan rasa malas dan berujung membuang-buang waktu. Atau justru berkegiatan yang kurang bermanfaat, padahal itu bisa menjadi waktu luang menulis. Misalnya kadang saya puny waktu luang yang enak nih. Anak sedang sekolah, di rumah sepi, atau pas malam hari anak-anak sudah tidur. Eh ketika buka laptop untuk menulis, saya malah terdistraksi sama sosmed, baca artikel lain, dll


b. Konsistensi menulis. Kadang susah menjaga ritme menulis dan menyelesaikan apa yang sudah saya tulis.


#6 Pertanyaan Kiki, Jepara

a. Apa motivasi terbesar yang membuat mbak Monik menembus penerbit mayor?

b. Bisakah berbagi tips mbak monik dalam membagi waktu antara menulis dengan aktivitas sehari-hari?


Jawaban:
a. Sudah saya jawab sebagian di pertanyaan Teh Sundari. Motivasi saya sebenarnya saya cuma ingin punya warisan dan kenang-kenangan yang bisa dibaca anak-cucu saya nanti, bahwa dulu kami pernah melewati masa-masa seperti itu di Groningen. Motivasi lainnya sebagai amal jariyah. b. Jadi begini postingan saya di blog yang paling ramai dikunjungi adalah mengenai Bagaimana mengurus visa keluarga ke Belanda. Saya membuat postingan tersebut sebab dulu belum banyak yang tahu bagaimana bisa memproses visa keluarga barengan untuk ke Belanda. Niat saya biar orang lain yang dulu kebingungan seperti saya bisa terbantu karena postingan saya. Ternyata banyak sekali yang bertanya dan malah ketika mereka sudah berhasil ke Belanda bersama keluarga, mereka langsung mengenali saya bahkan berterima kasih. Saya senang sekali bisa membantu. Jadi sejak saat itu tahu bahwa amal jariyah bisa juga melalui menulis, Insya Allah bermanfaat

Nah, saya ini kalau sedang banyak aktivitas dan amanah, saya jadi lebih produktif mengerjakan macam-macam, hehe.. Soalnya saya jadi tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak perlu/tidak penting. Sehingga saya jadi lebih fokus. Kalau masih bisa nulis di sela-sela kesibukan itu karena saya memang meluangkan waktu untuk menulis bukan hanya menyisihkan waktu yang tersisa

#7 Pertanyaan Rella, Malang

a. Sebelum 'berjodoh' dgn Elex, apakah