Contact us

Email : info@ibuprofesional.com

​​

  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • instagram
  • YouTube Social  Icon
  • Google+ Social Icon

© 2018 by Ibu Profesional. www.ibuprofesional.com All right reserved

Murid Siap Guru Datang

Beberapa bulan sebelum tagline "Changemaker Family" diluncurkan oleh IIP, tema komunikasi efektif, komunikasi positif ataupun meminjam istilah IIP; "komunikasi produktif" sudah menjadi salah satu perhatian & minat saya. Ketika itu di dalam hati saya bertekad akan mempelajarinya & perlu mempraktekkannya, juga kelak ingin turut menebar ilmunya, agar banyak orang mendapat manfaat.


Ketika saya telah merasa siap untuk belajar, secara tiba-tiba datang tawaran dari salah seorang kepala sekolah di Klaten, apakah saya berminat mengikuti Workshop Bahasa Bunda Bahasa Cinta (BBBC), dengan narasumber Ibu Septriana Murdiani yang diadakan oleh sekolahnya. Langsung saya iyakan tawaran ini. Saya sudah sangat menanti-nantikan belajar dari penulis buku BBBC langsung. Workshop 2 hari penuh

saya jalani dengan sangat antusias & semangat belajar menyala.


Saya telah membaca buku BBBC sekitar tahun 2016; berikut adalah kutipan 3 Rumus Bahasa Bunda dari buku BBBC, yang merupakan kata pengantar dari penulis sekaligus deskripsi ringkas dari isi buku tersebut...


3 Rumus Bahasa Ibu

Oleh: Septriana Murdiani Penulis buku "Bahasa Ibu Bahasa Cinta"

Bismillahirrahmanirrahim

Ayahbunda, saudara solih solihaat yang baik, salam takzim dan persaudaraan Pertama kali Allah memperkenalkan diriNya kepada manusia menggunakan nama Arrahman Arrahim. Dari ke 99 asmaNya, Dia memilih nama Maha Pengasih Maha Penyayang. Sang Maha Kasih Sayang. Betapa nama itu jugakita sebut tiap kali kita akan melakukan kegiatan, sehingga apa-apa yang kita lakukan menjadi ibadah dan berkah bagi tiap orang. Allah pun telah mewajibkan dirinya bersifat kasih sayang, (QS : Al An’am 54). Kasih sayangNya melampaui marahNya. Dan dengan namaNya pula ada satu organ dalam tubuh perempuan, tempat terhormat yang hangat dan melindungi, tempat janin tumbuh dan berkembang, itulah rahim.

Maka , Bahasa Ibu pun adalah bahasa kasih sayang. Lelaki dan perempuan punya dan butuh kasih sayang, sehingga Bahasa Ibu bukan milik bunda saja. Kasih sayang menjadi kebutuhan utama tiap anak manusia. Tiap anak dilahirkan fitrah, bukan tabularasa seperti kertas putih kosong, dengan kasih sayang yang cukup dan cara yang tepat, sesungguhnya anak-anak ini akan tetap dalam fitrahnya sebagai anak-anak yang baik. Bahasa ibu menjadi perlu dipelajari karena ternyata bahasa sayang orangtua sering tidak dapat ditangkap oleh anak-anak. Pun demikian sebaliknya. Beda channeling. Supaya kasih sayang kita tidak menguap dan menjadi sia-sia, bahkan menimbulkan efek merusak di luar dugaan, maka channeling itu harus kita kuasai karena kita tulus menyayangi mereka.

Sebagai orangtua, tugas parenting kita ‘hanya’ dua: 1. Memenuhi kebutuhan anak hingga mereka baligh. 2. Menjaga dan mendidik anak agar bisa menjadi orang dewasa yang kompeten (baca : mukmin)

Bahasa Ibu didisain berdasarkan hal tersebut di atas. Juga berdasar asas kerja otak, teori- teori kebutuhan manusia, beberapa studi mendalam lainnya, terutama dari pilar-pilar akhlak yaitu : kesadaran, perbuatan dan tanggung jawab. Bahasa ibu adalah alat dasar ilmu parenting/pengasuhan, sumber akhlak baik dan akhlak kuat yang terjaga. Walaupun tidak perlu menjadi dikotomis karenanya, biasanya akhlak baik dikatakan sebagai adalah akhlak yang berkaitan dengan diri, akhlak kuat berkaitan dengan kepemimpinan. Akhlak baik misalnya : bersih,pengasih, penyayang, sopan, santun, syukur, bijaksana. Akhlak kuat misalnya : pengendalian diri, berani, jujur, amanah, adil,mujahadah/bersungguh-sungguh, dan sabar aktif.

Bahasa Ibu Bahasa Cinta disederhanakan menjadi 3 rumus.

Bahasa Ibu Bahasa Cinta Rumus 1 adalah tentang cinta yang terpahami. Secara lebih detil anak akan merasakan bahwa dia dimengerti, dipahami, diterima, dicintai. Orangtua akan menguasai ilmu channeling cinta yang tepat sehingga cinta tulus orangtua dipahami sebagai cinta juga oleh anak-anak. Dengan demikian kebutuhan atas cinta bisa terpenuhi. Jika tidak terpenuhi kebutuhan ini akan tetap dicari oleh anak, walau dengan cara yang salah, dan sangat besar kemungkinan akan berakhir pada cinta yang salah. Dengan kasih sayang yang tulus dan melimpah yang dipahami (lebih penting lagi : dengan cara yang tepat), maka akhlak baik dan akhlak kuat bisa dikuasai dan dikembangkan anak.

Hasil penerapan orangtua akan Bahasa Ibu Bahasa Cinta Rumus 1 1. bahasa cinta yang dipahami oleh kedua belah pihak, ortu-anak, suami-istri, anak-orang dewasa 2. memenuhi kebutuhan atas cinta kasih 3. menumbuhkan rasa dan keyakinan anak bahwa memang ia diterima, dihargai, dihormati, dicintai. 4. peningkatan akhlak baik dan peningkatan kecerdasan emosi yang signifikan 5. orangtua dan anak-anak terhubung, berkasih sayang, dan berbahagia Bahasa cinta rumus kedua Keterbatasan pengalaman anak menyebabkannya masih sering mispersepsi, perbaikan atas kurangnya ketrampilan sering diterima sebagai kekurangan kepribadian atau akhlak, termasuk pula cara guru mengajar, dan kebijakan sekolah yang ditempuh, akan mempengaruhi berhasil tidaknya pembelajaran akhlak dan pada akhirnya pembelajaran lainnya. Contoh kesalahan: metode punish dan reward, sistem ranking , pujian yang tidak tepat.

Secara bertanggung jawab, kita perbaiki bersama cara itu menggunakan Bahasa Ibu rumus ke-2. Berisi Pentingnya positife statements di awal, highlight value, tips praktis tidak cerewet, ajaran-ajaran lain dan ketrampilan yang harus diajarkan agar anak bisa belajar dan berproses menjadi manusia utuh dan berakhlak. Anak-anak ini dibimbing untuk menjadi versi diri mereka sendiri, versi terbaik dari diri mereka masing-masing. Sehingga, Bahasa Ibu Bahasa Cinta rumus kedua adalah tentang membiasakan perbuatan baik (tanpa perlu teriakan atau orangtua menjadi cerewet karenanya), tetapi yang lebih penting adalah kesadaran untuk melakukan semua perbuatan baik itu. Bukankah itu yang kita inginkan ? Hasil penerapan orangtua akan Bahasa Ibu Bahasa Cinta rumus 2 1. Anak terbiasa melakukan perbuatan/akhlak baik 2. Anak dengan kesadaran memilih untuk melakukan akhlak-akhlak baik 3. Anak mampu melakukan hal-hal baik 4. Turunan Bahasa Ibu Bahasa Cinta rumus 2, adalah keterampilan hidup yang perlu kita ajarkan karena jarang didapatkan dari bangku sekolah

Bahasa ibu rumus ketiga adalah perihal akhlak kuat yang berkaitan dengan orang lain, cakupan besarnya adalah kemaslahatan umat. Ini tentang kepemimpinan yang bermula dari tanggung jawab dan keadilan. Berisi cara-cara menegakkan keadilan dan mengikuti peraturan yang dibuat bersama serta penguasaan ketrampilan menjadi seorang problem solver. Hasil penerapan orangtua akan Bahasa Ibu Bahasa Cinta rumus 3 1. Anak mampu menjadi seorang problem solver 2. Anak mampu membangun akhlak kuatnya 3. Anak dengan sadar memilih dan bersikap bertanggungjawab, 4. Anak bisa memimpin, paling minimal memimpin dirinya sendiri

Demikian ayahbunda, keistimewaan kita sebagai orangtua karena kita punya kekuatan untuk berkiprah dalam peradaban, sebagai ujung tombak. Perbaikan dimulai dari rumah-rumah kita, mulai dari diri kita sendiri, pasangan, anak-anak di rumah, tetangga, dan akhirnya pada cakupan yang lebih luas lagi. Perbaikan yang bisa kita lakukan dengan menggunakan keistimewaan yang kita punya, kekuatan yang sangat alami kita punyai, CINTA dan KASIH SAYANG.


Salam Septriana Murdiani Sukarman

Note: Buku BBBC, pertama kali terbit dengan judul "Bahasa Ibu Bahasa Cinta"


Di workshop ini, kami diajak langsung mempraktekkan materi-materi yang ada dalam buku sehingga lebih mudah dipahami & kami dapat meendiskusikan kendala-kendala yang biasa dihadapi sehingga memperoleh solusi kreatif. Kami belajar dengan metode active learning, terus bergerak dinamis dengan suasana riang, meskipun kami bukanlah anak-anak lagi.


Mata kami terbuka, betapa sebuah anugerah ketika gelar "orangtua" disematkan kepada kami, maka tiba-tiba kata-kata kami menjadi do'a yang sakti, penawar yang ampuh, bak mantera yang sangat manjur bagi perubahan perilaku orang-orang yang kami kasihi. Betapa menumbuhkan karakter baik bahkan hingga memelihara & menguatkannya bermula dari tutur kita yang tertata & terarah, menumbuhkan intrinsic motivation dalam diri buah hati & orang-orang di sekeliling kita. Mengasihi, itulah kata kuncinya.

Saya berharap kelak ada rejeki untuk mengikuti pelatihan Bahasa Bunda Bahasa Cinta lebih lanjut agar pengetahuan saya lebih mendalam & siap untuk berbagi pengetahuan dengan para orangtua lain.